SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban, Jawa Timur, menyarankan kepada Pertamina-Rosneft Oil Company untuk mengutamakan lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal setempat dalam pendamping program tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) Kilang Tuban.
Alasannya, LSM lokal Tuban lebih memahami kultur masyarakat sekitar kilang ketimbang LSM nasional atau di luar Kabupaten Tuban yang tentunya membutuhkan waktu untuk adaptasi dan sebagainya.
“Namun begitu pendamping CSR haruslah yang kredibel,” ujar Bupati Fathul Huda, dalam media gethering bersama awak media di salah satu resto Tuban, Jumat (28/4/2017).
Untuk itu, Pertamina harus bersinergi dengan Pemkab Tuban mengundang semua LSM yang kredibel. Kemudian setiap LSM diminta mempresentasikan program unggulannya. Siapa yang sesuai kriteria Pertamina, itulah yang bakal meningkatkan SDM warga sekitar kilang.Â
“Jangan hanya CSR meriah saat peluncuran saja, tapi diwaktu realisasinya nol besar,” jelasnya.
Selain itu Pertamina-Rosneft juga diminta untuk aktif melaporkan program CSR apa saja yang dilakukan. Hal ini karena dari puluhan perusahaan yang beroperasi di Bumi Wali, belum ada 10 industri yang melaporkan.
Kurang harmonis dalam komunikasi semacam ini, yang harus dijadikan cermin oleh Pertamina. Intinya Forkopimda dan masyarakat Tuban mendukung berdirinya kilang berkapasitas 320-400 ribu barel per hari (bph).
Fathul Huda berpesan, jangan sampai besarnya proyek Kilang skala Internasional tidak memberi kontribusi untuk warga sekitar. Karena itu harus mengtamakan warga sekitar dalam tahap kontruksi, maupun produksi tahun 2022 mendatang. Apabila tidak memiliki skill, maka harus diberi pelatihan.
“Intinya jangan ada alasan warga Kecamatan Jenu tidak memiliki skil,” tegasnya.
Sayangnya dalam hal ini, perwakilan Pertamina Project Koordinator NGGR Kilang Tuban, Amir Siagian tidak memiliki kapasitas untuk merespon keinginan pimpinan daerah. (aim)