SuaraBanyuurip.com -Â Totok Martono
Lamongan – Masih seringnya turun hujan di wilayah Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, menjadikan petani semangka dan garbis di Desa Trosono, Kecamatan Sekaran, membiarkan lahannya bero (tidak ditanami).
Salah satu petani semangka, Waris, mengatakan, tidak beraninya para petani mengawali tanam semangka dan garbis disebabkan sebagian lahan masih terendam air hujan.
“Masih belum berani tanam, karena sawahnya masih terendam air dan hujan juga masih sering turun,” kata Waris, kepada suarabanyuurip.com.
Dia menjelaskan, menanam semangka dan garbis berbeda dengan padi. Karena tanaman semangka dan garbis tidak perlu membutuhkan banyak air.
“Hanya cocok ditanam saat musim kemarau,” ujarnya.
Biasanya jika cuaca normal petani di Desa Trosono mulai menanam semangka dan garbis di bulan April. Kemudian di bulan Juli hingga Agustus biasanya panen raya.
“Karena hujannya masih turun terus terpaksa menunggu hingga kemarau tiba baru mulai tanam,” imbuhnya.
Kepala Desa (Kades) Trosono, Sutrisno membenarkan, jika ratusan hektar lahan pertanian di wilayahnya masih dibiarkan bero. Petani tidak berani berspekulasi karena tidak mau merugi dengan menanam semangka dan garbis saat masih hujan.
“Biaya tanam dan perawatan semangka dan garbis ini butuh modal besar,” terang Sutrisno.
Desa Trosono sendiri merupakan sentra penghasil semangka dan garbis terbesar di Bumi Sunan Drajat selain Desa Latukan, Kecamatan Karanggeneng. Setiap musim panen ratusan truk hilir mudik mengangkut hasil panen untuk dijual di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang hingga Bali. (tok)