SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban – Hingga kuartal II tahun 2017, belum ada pihak yang berminat membeli gas dari Lapangan Lengo di perairan Bulu, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Sejalan dengan itu, kini perusahaan Krisenergy (Satria) Ltd asal Singapura tersebut terus mengkaji lokasi Operating Receive Facility (ORF).
“Pembelinya belum ada, doanya saja supaya dapat segera dikelola,” ujar Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Jabanusa, Ali Masyar, melalui pesan singkat yang diterima suarabanyuurip.com, Rabu (17/5/2017).
Bisnis gas tidak serupa dengan minyak. Kalau minyak setelah dieksploitasi dapat disimpan di kapal tangker. Sedangkan gas tidak bisa. Setelah diproduksi harus langsung digunakan.
Koordinator Lapangan Gas Lengo di Tuban, Amir, juga membenarkan belum ada kegiatan apapun yang dilakukan Krisenergy di Tuban. Kalau pun ada rencana untuk itu, pasti bakal disampaikan publik.
“Belum ada mas, sampai hari ini saya nyantai di rumah,” singkatnya.
Amir menjelaskan, sepinya aktifitas operator juga terjadi di tempat lain. Bahkan dalam siaran persnya bulan Februari 2017 kemarin, operator mengembalikan dua blok berstatus eksplorasi ke Pemerintah Pusat yakni Blok East Muriah PSC dan Blok Kutai PSC.
Vice President Administration KrisEnergy, Florencia Ciska Brata, melalui pesan elektroniknya memaparkan penemuan Gas Lengo terletak di Kontrak Bagi Hasil Bulu (production sharing contract/PSC), yang diberikan oleh Pemerintah pada tahun 2003.
PSC Bulu terdiri dari tiga wilayah yang berbeda yaitu Bulu A, B, C. Meliputi wilayah seluas 697 km2 di Laut Jawa Timur, dengan periode kontrak 30 tahun. (aim)