TPQ Kurangi Mistis Negatif di Makam Gedong Ageng

Ngaji

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora  – Ada suasana berbeda Ramadan tahun 2017 ini dibanding dengan tahun lalu di komplek makam Gedong Ageng Arya Djipang, Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Setiap sore, komplek makam tampak ramai dengan anak mengaji dengan dipandu empat orang guru ngaji bertempat di Pendopo makam setempat. Yang juga digunakan sebagai Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ).

Menurut Eko Prastio, perangkat desa sekaligus guru ngaji Desa Jipang, TPQ tersebut masuk bulan ke-dua di bulan Ramadan ini. Ada puluhan anak d belajar mengaji ilmu agama di TPQ .

“Selain baca tulis Al-Qur’an, juga ada hafalan serta meneladani kisah Rasul dan para pendahulu,” ujarnya, kepada suarabanyuurip.com.

Dia menjelaskan, butuh waktu cukup lama mengajak anak-anak setempat untuk belajar mengaji.

“Memang butuh perjuangan,” jelasnya.

Tempat ini (red-Pendopo), awalnya hanya sekadar digunakan para orang tua. Baik pengajian para Bapak maupun jama’ah tahlil para Ibu. Dari situ, secara perlahan dirinya mulai mengajak para orang tua untuk mengarahkan anaknya supaya ikut mengaji.

Baca Juga :   Akses Well Pad C Masih Diblokir, Giliran Jalan Beged Ditutup Warga

“Alhamdulillah, saat ini banyak anak, yang tertarik untuk belajar mengaji di TPQ ini. Harapan kami, pendidikan ilmu agama  ini terus berjalan,” terangnya.

Dengan berjalannya kegiatan TPQ tersebut, sekaligus mengurangi kesan mistis negatif di komplek makam Arya Djipang. Pasalnya, selama ini ada kesan jika orang datang ke makam ini mempunyai hajat tertentu.

Di Desa Jipang, terdapat dua makam yang dianggap sakral bagi kebanyakan orang. Sehingga banyak warga dari luar daerah yang melakukan ziarah kubur pada kedua makam itu. Yakni makam Gedong Ageng Arya Djipang dan makam Santri Songo, yang terletak agak berjauhan.

Saat bulan puasa seperti saat ini, menurut dia, sebenarnya orang tidak boleh memasuki makam Arya Djipang. Karena kebanyakan mereka yang datang memiliki keinginan tertentu. Kedatangan mereka di makam tersebut, melakukan ziarah dibarengi dengan ritual kejawen. Berbeda dengan makam santri songo.

“Kalau di makam santri songgo lebih banyak ritual keagamaan,” ujarnya.

Tokoh masyarakat setempat, Tarno menyatakan, makam Arya Djipang dan makam Santri Songo selama Ramadan ini tidak banyak pengunjung. Namun, pada saat puasa seperti ini pada malam tertentu banyak warga dari luar desa yang berdatangan melakukan ziarah kubur.

Baca Juga :   Blora Luncurkan Samsat Keliling

“Kalau yang di santri songo itu biasanya jamaah Ibu-ibu,” ujarnya.(ams)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *