SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Alat ukur produksi minyak bumi atau flow meter mulai terpasang di wilayah produksi Minyak dan Gas Bumi (Migas) Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabanusa). Salah satunya di Lapangan Banyuurip, Blok Cepu yang dikelola ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).
“Pemasangan alat flow meter bertahap karena biayanya mahal,” ujar Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Jabanusa, Ali Masyhar, kepada suarabanyuurip.com, melalui telepon, Sabtu (1/7/2017).
Ada dua alat flow meter yang terpasang di Blok Cepu. Pertama terpasang di Lapangan Banyuurip, dan kedua di Floating Storage Offloading (FSO) Gagak Rimang utara Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban.
Hanya saja, Ali Masyar belum bisa merinci Lapangan Migas mana saja yang telah terpasang alat tersebut. Diupayakan secepatnya, sesuai amanat dari Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 39 tahun 2016.
Data yang dihimpun dari SKK Migas pusat, pemasangan flow meter Nasional sudah mencapai 50 persen. Direncanakan pekan ketiga bulan Juli 2017, pemasangan alat ukur sudah rampung.
Apabila dirinci dari 209 titik lokasi pengukuran berada di 174 blok migas produksi, dan 35 terminal titik serah minyak dan gas bumi yang siap jual (lifting). Adapun sebanyak 32 perusahaan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang terlibat dalam pemasangan tersebut.
“Tujuannya dalam rangka pengawasan produksi minyak bumi,” ungkapnya.
Perlu diketahui, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sudah menyetujui revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) SKK Migas tahun anggaran 2017 untuk pengadaan flow meter. Nilai anggaran pengadaan alat ini untuk 209 titik, sebesar Rp 59,8 miliar. (Aim)