SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Yayasan Bina Swadaya (YBS) mitra operator Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), mengikuti pameran di Pondok Pesantren (Ponpes) Ar Rosyid di Desa Sumbertlaseh, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang diselenggarakan lima hari sejak Minggu sampai Kamis (10-14-7/2017).
Pada pameran tersebut, YBS memamerkan berbagai macam produk olahan hasil pendampingan masyarakat sekitar operasi.
Mudlofar, pendamping kelompok masyarakat dari Bina Swadaya mengungkapkan, dengan ikut serta acara pameran seperti ini merupakan salah satu upaya mengenalkan sekaligus ajang promosi produk.
“Ada banyak produk yang dipamerkan, mulai makanan dan minuman ringan, beras, kompos, dan lain sebagainya,” ujarnya, kepada suarabanyuurip.com.
Semua produk tersebut tidak dihasilkan dengan cara instan. Masrakat dari seluruh Kecamatan Gayam dan Kalitidu harus berlatih sejak tahun 2013 silam.
“Selain pendampingan, kami juga membantu membuka jaringan pasar melalui media online dan kegiatan lainnya,” tukasnya.
Masyarakat juga tidak perlu bersusah payah mendapatkan modal untuk mengembangkan usaha yang dipilih dari empat jenis pelatihan yang diberikan Bina Swadaya. Karena sudah ada Koperasi Simpan Pinjam Rajekwesi yang memfasilitasi.
Koperasi ini memiliki misi menyejahterakan anggota melalui pemberdayaan ekonomi produktif dan memberikan pelayanan keuangan yang serba guna dan mudah diakses oleh anggota.
“Butuh modal bisa pinjam koperasi, sedangkan produknya dipasarkan ke Koperasi Produsen Agrobisnis,” imbuhnya.
Pihaknya memberikan contoh, saat ini sudah bekerjasama dengan Koperasi Kareb yang mengambil stok beras dari Koperasi Produsen Agrobisnis setiap bulan 2 ton.
Untuk pendampingan yang dilakukan selama ini ada 4 jenis diantaranya Peternakan, Pertanian, Makanan olahan dan Perikanan. Bahkan, untuk pertanian sekarang petani di Kecamatan Gayam dan Kalitidu melakukan penanaman padi seluas 60 hektar dengan mengurangi peptisida.
“Kami berharap, bisa meningkatkan pendapatan masyarakat dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada dan tidak bergantung ladang migas,” tandasnya.
Salah satu pengunjung, Dita Aprilia, mengaku, baru melihat olahan keripik tempe yang dipamerkan. Selain rasanya yang berbeda dengan keripik tempe lainnya, bentuknya yang bundar menjadi ciri khas tersendiri.
“Ada banyak jenis makanan ringan lain yang ternyata tidak kalah enak dengan cemilan yang lebih dulu ngehits,” pungkas ibu satu anak ini.(rien)