SuaraBanyuurip.com -Â Totok Martono
Lamongan – Memasuki tahun ajaran baru menjadi berkah bagi para pengusaha konveksi di Desa Moropelang dan Tri tunggal, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Karena telah kebanjiran pesanan seragam sekolah. Sehingga membuat omzet mereka naik hingga dua ratus persen.
“Setiap tahun ajaran baru merupakan berkah bagi kami dan pengusaha konveksi lainnya,” kata pengusaha konveksi asal Desa Moropelang, Umamah.
Sejak awal Bulan Juni lalu jumlah pemesan yang menjahitkan baju seragam ditempatnya terus mengalir. Seragam yang dijahitkan bervariasi dari TK hingga SMU.
“Sejak seminggu lalu kami sudah tidak berani menerima orderan karena kuatir tidak bisa mengerjakan,” cetus Umamah.
Dengan dibantu tiga orang tenaga kerja dalam sehari rata-rata ia bisa menyelesaikan jahitan seragam sekira 8 buah. Ongkos jahitnya antara Rp 60 ribu hingga Rp80 ribu per satu stel seragam.
Untuk pengusaha konveksi kelas besar lebih berani berspekulasi selama musim ajaran baru tersebut. Mereka berani menampung berapapun pesanan yang biasanya datang dari lembaga pendidikan se Jawa Timur hingga luar Jawa Timur meski baru dibayar uang muka (DP).
“Asal dibayar uang muka kami sanggup mengerjakannya. Sisa pembayaran setelah pesanan seragam jadi, ” ujar pengusaha konveksi lainnya asal Dusun Beton, Desa Tritunggal, Didik.
Cara itu lazim di lakukan mengingat ketatnya persaingan usaha konveksi di desa yang telah menjadi sentra konveksi di Kabupaten Lamongan.
Untuk menjaring konsumen, puluhan pengusaha konveksi harus terjun langsung ke lembaga-lembaga pendidikan hingga kepelosok desa di Jawa Timur.
“Rata-rata pengusaha konveksi sudah punya langganan tetap tapi setiap tahun ajaran baru kami dibantu sales juga jemput bola dengan mendatangi sekolah-sekolah di wilayah Jawa Timur, ” ungkap Didik.
Dengan dibantu sekira 10 orang karyawan Didik mengerjakan ribuan seragam sekolah baik SD hingga SMU dari pelosok lembaga pendidikan di Jawa Timur.
“Ada peningkatan sekira 200 persen sebelum tahun ajaran baru berlalu.(tok)