Istri Polri-TNI Kunjungi Desa Kritis Air

dropping air

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban - Persatuan istri Polri Bhayangkari dan istri TNI Persit Candra Kirana, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, hari Jumat (18/8) mengunjungi Desa Grabagan, Kecamatan Grabagan, yang mengalami kritis air bersih. Kepedulian terhadap sesama ini, bertepatan dengan Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-65 tahun 2017.

“Ini bentuk kepedulian sesama kami sebagai istri polisi dan TNI,” ujar Istri Kapolres Tuban, Dila Intani Fadly Samad, kepada suarabanyuurip.com usai bagi air bersih kepada warga di Dusun Klampean, Desa Grabagan.

Awal musim kemarau tahun ini cukup membuat Dila prihatin. Hal ini karena beberapa desa di Tuban, telah dilaporkan kekeringan air oleh setiap polsek.

Bersama Persit Candra Kirana, akhirnya Bhayangkari memutuskan untuk menyalurkan air bersih sebanyak 10.000 liter di delapan titik. Diharapkan bantuan air yang tak seberapa ini, bermanfaat untuk memasak atau mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Dropping air di awal kemarau di Kecamatan Grabagan, disambut baik oleh warga setempat. Salah satunya Sugihanto (38), warga Dusun Klampean yang sejak pagi menunggu di titik pendistribusian air pertama.

Baca Juga :   Listrik Byar Pet di Ladang Gas JTB

Di desa setempat, hujan terakhir turun 1,5 bulan yang lalu. Praktis hal tersebut membuat masyarakat harus membeli air saban harinya.

“Kalau ndak beli air anak istri bagaimana minumnya,” tutur Bapak satu anak ini.

Untuk mencukupi kebutuhan harian, keluarganya membutuhkan tiga sampai empat jerigen air. Untuk itu, dirinya harus membayar Rp1.000/jerigen. Itupun harus mengambil sendiri di kios penyedia air yang jaraknya 100 meter dari rumahnya.

Sedangkan jika langsung membeli 1.000 liter, cukup membayar Rp40.000. Cadangan air ini dapat digunakan sampai sepekan, dengan catatan berhemat.

Warga lain di Dusun Ngenul, Siti Mufidah, juga mengaku kesulitan memperoleh air bersih. Matinya sumber air, dan belum berfungsinya PDAM membuatnya harus membeli.

“Tak punya air berarti tidak bisa masak dan mandi,” terang Mufidah usai mengantre air sambil menggendong putrinya di tengah terik mentari.

Belum fungsinya PDAM, dibenarkan warga lain Tamaji (38). Dia menilai proyek PDAM di wilayahnya terkesan asal-asalan. Idealnya pemasangan tandon air, di Dusun Klampean yang merupakan titik tertinggi di Desa Grabagan bukan di dusun yang lebih rendah datarannya.

Baca Juga :   Pemkab Bojonegoro Salurkan Insentif 3.779 Marbot Dua Bulan Sekaligus

“Anehnya pemasangannya justru di titik yang melimpah air jadinya kami sudah terbiasa membeli air,” tambahnya.

Catatan Camat Grabagan, M. Djuanda, sampai detik ini sudah ada tiga desa di wilayahnya yang krisis air. Mulai Desa Grabagan, Banyubang, dan Ngandong.

“Krisisnya baru tingkat RT belum menyeluruh satu desa,” ungkapnya.

Disinggung soal proyek PDAM yang mangkrak dua tahun, Djuanda mengaku belum sesuai harapan. Dia menegaskan belum sampainya pipa ke Dusun Klampean dan Ngenul, karena sumber airnya minim. Otomatis membuat program ini belum bisa mencakup semua warga Desa Grabagan.(Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *