Pertamina EP Asset IV Beri Pelatihan Manajemen ASI

Pertamina asset 4

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro – Pertamina EP Asset IV Field Cepu selaku operator sumur Tiung Biru dan pemilik Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) sumur tua, menggelar pelatihan manajemen ASI SEHATI (Sehat Anak Tercinta dan Ibu) di Hotel Bonero, Desa Leran, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Pelatihan yang dilaksanakan selama tiga hari yakni pada Senin-Rabu (28,29,20 Agustus 2017) ini diikuti oleh 25 kader Posyandu dari enam desa yakni Desa Kalisumber, Malingmati, Tambakrejo, Kecamatan Tambakrejo, dan desa Gapluk, Purwosari, Kuniran, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro.

Selain pelatihan tersebut, Pertamina EP Asset IV Field Cepu juga memberikan bantuan berupa alat ukur tinggi badan, alat ukur panjang bayi, alat timbang bayi digital, spatel lidah polos, alat tes mata, timbangan badan, termometer digital, P3K, bola senam hamil dan konseling senam hamil.

Field Manajer (FM) Pertamina EP Asset IV Field Cepu, Heru Irianto melalui Heri Prayogo, menyampaikan, pelatihan ini merupakan bentuk dukungan dari Pertamina EP Asset IV Field Cepu dibidang kesehatan.

“Kita ingin meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui para kader posyandu ini terkait pentingnya air susu ibu atau ASI,” ujarnya, kepada suarabanyuurip.com.

Manajemen ASI ini bekerjasama dengan Asosiasi Ibu Menyusui (AIMI) cabang Jawa Timur. Diharapkan, dengan pelatihan ini seluruh kader bisa memberikan informasi kepada masyarakat dan mengedukasi secara maksimal jika ASI sangat penting bagi bayi.

“Dengan program ini, paling tidak bisa mencerdaskan dan menyehatkan anak di sekitar operasi kita,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan, dr Hernowo, mengapresiasi kegiatan yang diberikan oleh Pertamina EP Asset IV Field Cepu, terlebih manajemen ASI menjadi konsen Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Baca Juga :   Pengamanan Blok Cepu Belum Ideal

“Saya menyambut gembira dengan adanya pelatihan ini, karena secara umum masih banyak ibu-ibu yang susah memberikan ASI eksklusifnya,” imbuh Hernowo.

Selama ini, anak hanya mendapatkan ASI dari ibunya sampai 6 bulan saja, terlebih bagi ibu yang aktif bekerja. Setelah 6 bulan, rata-rata anak diberikan susu formula. Tidak hanya itu saja, masih ada beberapa rumah sakit di Bojonegoro yang memberikan susu formula dengan alasan ASI dari ibu belum keluar.

“Padahal, kalau sudah kena susu formula bayi tidak mau menyusui ibunya,” tukasnya.

Saat ini, pihaknya tengah gencar mensosialisasikan program ibu menyusui khususnya bagi wanita bekerja. Meski belum ada regulasi yang mengatur, tapi Dinas Kesehatan memberi himbauan kepada semua instansi dan rumah sakit untuk menyediakan ruang lactasi bagi ibu menyusui.

“Agar mereka bisa memerah ASI  untuk anak-anaknya dirumah,” tandasnya.

Pihaknya berharap, dengan adanya pelatihan ini angka ibu menyusui di Bojonegoro bisa meningkat meski sekarang sudah mencapai 85 persen. Karena dengan memberikan ASI, beberapa manfaat yang didapat antara lain mengurangi angka kematian pada bayi dan menghindarkan ibu dari kanker atau tumor payudara.

“Dan masih banyak lagi manfaat ASI lainnya,” pungkasnya.

Sementara itu, Konselor Laktasi AIMI Jawa Timur, Risqa Prasista, menyampaikan, tujuan dari pelatihan ini supaya angka menyusui di Kabupaten Bojonegoro bisa mengalami peningkatan.

“Sehingga, semakin banyak bayi yang mendapat ASI ekslusif,” ujarnya.

Sebenarnya, wanita diciptakan Tuhan YME dengan adanya rahim dan payudara bisa hamil dan menyusui asal dengan cara yang benar.

Yang seringkali terjadi adalah, mereka tidak tahu bagaimana caranya lalu belum ketemu fasilitas kesehatan, atau lingkungan yang mendukung untuk mengetahui bagaimana menyusui yang baik dan benar.

Baca Juga :   Gas-In Dilaksanakan Juli Pekan Terakhir

Kenapa memilih kader Posyandu, hal ini dikarenakan para kader inilah yang menjadi ujung tombak di masyarakat. Setiap hari, mereka yang bertatap muka dengan masyarakat, sehingga bisa memberikan edukasi bagaimana menyusui dengan baik dan benar.

“Harapan kami, dengan semakin banyak kader Posyandu maka semakin luas pula informasi bagaimana menyusui yang benar, manajemen menyusui bagi ibu bekerja yang benar,” tegasnya.

Banyak sekali yang perlu dipelajari dilapisan masyarakat termasuk mitos yang berkembang seputar ibu hamil dan menyusui. Lalu, cara memperbanyak produksi ASI, mengapa bayi terus menangis meski sudah disusui, dan sebagainya.

“Di pelatihan ini kita memberikan cara bagaimana supaya kader Posyandu ini tahu cara terkait semua itu,” tandasnya.

Salah satu kader Posyandu Tambakrejo, Lilik Ikawati, mengaku, senang dengan pelatihan ini. Karena, selain bisa meningkatkan ilmu pengetahuan untuk diri sendiri, juga bagi masyarakat yang belum mengetahui cara menyusui yang baik dan benar.

“Meski di Desa Tambakrejo sudah banyak yang memberikan ASI, tapi kebanyakan masih percaya dengan mitos yang mengakar kuat sejak nenek moyang” ujar ibu satu anak ini.

Beberapa mitos yang dipercaya sampai sekarang ini adalah larangan ibu menyusui meminum es, karena takut anaknya sakit. Atau ketika anaknya sakit, si ibu harus meminum obat dan memebrikan ASI di payudara sebelah kiri.

“Banyak sekali hal yang belum diketahui tentang ASI termasuk kebutuhan gizi bagi ibu dan bayi,” pungkasnya.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *