SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban - Sebagai wilayah penting dalam bisnis hulu dan hilir Migas di tanah air, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Jawa Timur, terus mengkaji besaran potensi gempa di wilayah tersebut. Kajian ini menyusul terjadinya gempa tektonik yang sempat terjadi dua kali akibat aktifitas sesar aktif di perairan Utara Tuban yang terjadi pada tanggal 23 Juli 2017 lalu.
“Masih dikaji oleh ahli gempa Jakarta, mas,†ujar Kepala BPBD Tuban, Joko Ludiono, kepadasuarabanyuurip.com, melalui pesan singkatnya, Senin (4/9/2017).
Usai Pemerintah Pusat terjun langsung ke Tuban mengumpulkan data gempa, Joko mengaku belum menerima update data terakhir kajian. Diharapkan potensi gempa kecil sehingga tidak sampai terjadi bencana gelombang tsunami.
Waktu terjadi gempa, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa tektonik yang mengguncang daerah Paciran, Kabupaten Lamongan, berasal dari pergerakan sesar aktif di Laut Jawa. Lindu bermagnitudo 4,2 yang terjadi pukul 19.28 WIB, Ahad, 23 Juli 2017, itu diikuti gempa susulan bermagnitudo 3,2 selang 15 menit kemudian.Â
Untuk pusat gempa atau episenter terletak pada koordinat 6,82 lintang, selatan dan 112,48 bujur timur. Tepatnya di laut pada jarak 17 kilometer arah timur laut Paciran di kedalaman 5 kilometer.
Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan dilihat dari kedalamannya lindu tersebut tergolong gempa tektonik kerak dangkal (shallow crustal earthquake).
Hasil analisis peta tingkat guncangan menunjukkan gempa tersebut dirasakan pada skala intensitas II versi BMKG atau III MMI di daerah Tuban, Paciran, Sukowati, Brondong, Drajat, Sentul, Pangkah Kulon, dan Sekapuk. Sedangkan hasil analisis mekanisme sumber gempa menunjukkan gempa dipicu oleh sesar atau patahan yang bergerak mendatar dengan sedikit unsur naik (oblique thrust).Â
“Secara tektonik, struktur sesar yang berdekatan dengan titik sumber gempa merupakan Sesar Rembang yang terdapat di daratan pesisir Tuban,” kata Daryono.Â
Hasil identifikasi sementara dari para ahli gempa, pergerakan Sesar Rembang berjenis naik (thrusting). Berorientasi arah timur-barat, sesar tersebut memanjang hingga Pulau Madura. Sedangkan untuk potensi gempanya bermagnitudo 7,1.
Adanya potensi gempa, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban berharap tidak berdampak langsung pada industri Migas. Diantara industri hulu Migas yang terus beroperasi yakni produksi Lapangan Mudi di Kecamatan Soko, Lapangan Tapen di Kecamatan Senori, dan Sumur Tua peninggalan Belanda di Kecamatan Singgahan-Bangilan.
Untuk bisnis hilir ada kilang PT Trans Pasific Petrochemical Indotama (TPPI), dan sebentar lagi berdiri Kilang NGRR Tuban patungan Pertamina- Rosneft Oil Campany. Sedangkan 23 Km ke Utara dari bibir pantau Kecamatan Palang mengapung dua kapal tangker Floating Storage and Offloding (FSO) Gagak Rimang menampung minyak dari Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, dan FSO Cinta Natomas menampung minyak dari Lapangan Mudi, dan Sukowati. (aim)