Pedagang Beras Leran Enggan Setor ke Bulog

Petani tuban

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Tak semua pedagang beras di Desa Leran, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mau menyetor ke gudang Bulog Jalan Pahlawan Tuban. Selain harga yang dipatok lebih murah dari pasaran, ada permintaan kelebihan beras dari setiap tonnya.

“Rugi kalau disetor ke Bulog,” ujar seorang pedangan beras di Desa Leran, Palang, yang enggan disebutkan identitasnya kepada suarabanyuurip.com, Jumat (8/9/2017).

Pria berkulit sawo matang itu menyebur harga beras terakhir dari Bulog Rp8.100/ Kg. Padahal harga beras di pasaran sudah Rp8.700/ Kg. Adanya selisih Rp600/Kg inilah menjadi pemicu pedagang enggan mengirim beras ke Bulog.

Secara kalkulasi, biaya beli sampai pemrosesan beras tidak sebanding dengan untung penjualan. Selama ini dia membeli gabah basah dari petani dengan harga Rp5.500/Kg. Untuk satu kwintalnya tentu harus mengeluarkan kocek Rp550.000.

Ketika diproses, gabah basah satu kwintal hanya menghasilnya beras 64 Kg. Apabila dikalikan dengan harga penjualan Rp8.700, dia hanya memperoleh uang Rp556.800. Ada keuntungan Rp6.800/kwintal, dan akan merugi ketika berasnya dijual ke Bulog dengan harga Rp8.100/kg.

Baca Juga :   Produksi Padi Sekitar Sukowati Jeblok

Faktor kedua, setiap kali pengiriman ada permintaan dari oknum untuk melebihi takaran untuk setiap kwintal beras. Hal ini untuk mengurangi susut saat penyimpanan di gudang.

“Kalau lebihnya 2 ons tentu tinggal mengalikan berapa ton yang dikirim,” Jelasnya.

Sebenarnya aturan pemerintah sudah jelas, hanya ada oknum yang membuat pedagang sulit mengirim beras di gudang Bulog. Kalau soal kadar air, dia bisa mengaturnya karena dalam pengeringan sudah menggunakan mesin oven.

“Kalau di Bulog batas maksimal kadar 14% kami bisa membuatnya 13,5%,” terangnya.

Menyikapi keluhan pedagang beras Leran, Kepala Gudang Bulog Wire Tuban, Bagiyo, tidak bisa memberikan statmen temuan wartawan di lapangan. Untuk konfirmasi soal apapun, silahkan menghubungi pimpinan Subdrive Bulog Bojonegoro.

Melalui sambungan teleponnya, Kabulog subdrive III Bojonegoro, Irsan Nasution, membenarkan apabila beras pedagang atau mitra tak memenuhi baku mutu dan standar Impres tentu akan dikembalikan. Apabila diterima, tentu akan rusak pada saat penyimpanan di gudang.

“Maksimal kadar airnya 14%,” sambungnya.

Disinggung adanya permintaan tambahan takaran beras setiap kwintalnya, Irsan menampiknya. Berapapun takaran tetap, tidak ada permintaan tambahan.

Baca Juga :   Peringati HSN 2025, Bupati Bojonegoro: Santri Harus Menjadi Penggerak Kemajuan Bangsa

“Kalau 50 Kg ya itu jumlahnya,” sergah Irsan.

Data dari gudang Bulog, tahun 2017 harus menyerap beras sebanyak 35 ribu ton beras kualitas medium dengan harga Rp8.030/ Kg. Tinghinya bisnis di pasaran, mengakibatkan minimnya serapan Bulog. Tercatat sampai bulan September, serapan gudang Bulog baru mencapai 47%. (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *