Panenan Hancur Petani Truni Tersungkur

SuaraBanyuurip.com - Totok Martono

Lamongan – Petani di Desa Truni, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, bisa dikata tersungkur. Karena hasil panenan sebelumnya hancur akibat tanaman pertaniannya diserang panyakit. Sehingga saat ini lahan pertanian mereka dibiarkan bero (tidak ditanami) karena sudah tak memiliki modal untuk bercocok tanam.

“Biasanya musim kemarau saat ini masih tanam di sawah. Tapi karena gagal panen petani banyak yang rugi dan tidak punya modal tanam,” ujar Soleh, salah satu petani setempat.

Sebenarnya, walau musim kemarau tidak menjadi kendala bagi petani di Desa Truni. Karena irigasi melimpah dari Sungai Bengawan Solo. Dalam setahun petani Truni bisa tanam tiga kali yaitu padi dan jagung.

Kepala Desa (Kades) Truni, Martono, memaparkan, serangan penyakit tanaman padi baru kali ini dialami para petani.

“Tidak jelas jenis penyakitnya. Tiba-tiba batang padi menjadi berwarna merah semua. Setelah itu tidak mau tumbuh lagi atau menjadi kerdil,” ujar Martono.

Akibat serangan penyakit tersebut hasil panenan petani turun hingga 40 persen. Jika biasanya satu lahan menghasilkan panen satu ton tinggal sekira 6 kwintal.

Baca Juga :   Belum Punya GeNose C19, Calon Penumpang KA Stasiun Bojonegoro Pakai Surat Sehat

“Dari 70 hektar lahan pertanian hampir semua terserang penyakit sehingga menimbulkan kerugian besar bagi petani,” cetusnya lagi.

Selaku Kades dirinya sudah melaporkan serangan penyakit aneh itu ke Dinas Pertanian Lamongan.

“Dinas Pertanian sudah sempat turun ke lokasi dan menyataan penyakit yang menyerang tanaman padi jenis baru. Mereka mengatakan penyakit tanaman kerdil,” tandas Martono.

Karena tidak bisa bercocok tanam sebagian warga Truni saat ini bekerja serabutan dan kuli bangunan, menarik becak maupun menjadi buruh pabrik di Surabaya.(tok)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *