Kasus Bias, RSUD Polisikan Oknum Peneror

Periksa alat rusak

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. R. Koesma Tuban, Jawa Timur, melalui bagian humas dan hukumnya secara resmi telah melaporkan dua oknum peneror yang merusak fasilitas kesehatan hingga merugi Rp100 juta. Padahal kasus penting meninggalnya bayi dari perawat RSNU, Nurul Rahman dan bidan Ika akibat keteledoran oknum perawat IS belum beres.

“Sudah kita laporkan ke kepolisian,” ujar Kasubag Humas dan Hukum RSUD dr. R Koesma Tuban, Siswanto, ketika dikonfirmasi suarabanyuurip.com, di sela-sela Inspeksi Mendadak (Sidak) Komisi C DPRD Tuban, Senin (9/10/2017).

Pelaporan dua oknum yang diduga orang tua bayi meninggal itu, bukan soal besar kecilnya kerugian yang dialami rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban. Intinya kalau sudah ada kerusakan fasilitas kesehatan, tentu harus diluruskan di jalur hukum.

Beberapa fasilitas yang rusak meliputi, kaca pintu, loket pelayanan, kursi, monitor, kulkas obat, dan ruang pelayanan ibu dan bayi. Insiden seperti ini, diakui Siswanto baru pertama kali sejak meninggalnya bayi diduga tercebur air panas pada hari Sabtu (16/9) lalu.

Baca Juga :   Bupati Anna : 10 Siswa Bojonegoro Berstatus ODP Corona

“Prakiraan kerugian yang dialami RSUD mencapai Rp100 juta,” jelasnya.

Disinggung apakah dua oknum peneror merupakan perawat RSNU dan bidan, dia tidak berani menyebutkannya. Saat ditunjukan foto orang tua bayi, Siswanto tidak ingat persis wajah oknum tersebut.

“Kalau foto ini terlalu cantik dibanding oknum peneror,” terangnya.

Saat dimintai copyan hasil rekaman CCTV pengerusakan, RSUD menolaknya. Pihaknya berdalih, rekaman tersebut sudah diserahkan ke Satreskrim Polres Tuban untuk keperluan penyelidikan.

Kasatreskrim Polres Tuban, AKP M. Wahyudi Latif membenarkan, sudah menerima laporan resmi dari Bagian Humas dan Hukum RSUD Tuban. Laporan tersebut menjadi dasar penyelidikan dua oknum peneror.

“Sudah kami terima laporannya,” sambungnya.

Latif sapaan akrabnya mengaku, belum menerima serangkaian hasil pemeriksaan penyebab kematian bayi asal Tasikmadu dari RSUD. Hal ini membuat institusi korps baju cokelat, sulit mengusut insiden tersebut.

Salah satu anggota keluarga bayi meninggal asal Tasikmadu, Titik mengaku perawat Nurul Rahman dan bidan Ika sangat terpukul. Dia meminta maaf apabila kakanya belum bersedia berstatmen di media, perihal kematian anak pertamanya yang sudah diidamkan sejak tahun 2013 silam.

Baca Juga :   Fenomena Nikah Malam Sanga, KUA di Bojonegoro Menikahkan Sampai Tengah Malam

“Maaf kalau kakak Rahman belum stabil,” sergahnya.

Ayah bayi yang merupakan perawat RSNU Tuban, Nurul Rahman belum merespon pesan messenger yang dikirimkan wartawan suarabanyuurip.com, sejak hari Sabtu (7/10) kemarin. Pesan sudah terkirim, dan hanya dibaca tapi belum dibalas. (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *