SuaraBanyuurip.com -Â Â Ali Imron
Tuban-Â Sebanyak 59 rumah milik warga Ngetuk, Desa Karanglo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, dalam waktu dekat bakal diganti oleh Semen Gresik (SG) Kerja Sama Operasional (KSO) Semen Indonesia. Ganti rugi tersebut sebagai dampak dari aktifitas peledakan di tambang semen di Desa Sumberarum.
“Rumah yang retak sudah kami data,” ujar Kasi Corporate Social Responsibility (CSR) SG, Siswanto, kepada suarabanyuurip.com, melalui pesan singkatnya, Senin (16/10/2017).
Data tersebut telah dikoordinasikan dengan warga dan perangkat Desa Karanglo. Tinggal menunggu waktu realisasinya, dan ganti rugi tersebut sebagai komitmen BUMN kepada warga terdampak.
Selama ini perusahaan tambang yang beroperasi di Desa Sumberarum itu secara rutin menyalurkan program tanggungjawab sosial (CSR) ke 26 desa terdampak. Warga Ngetuk Karanglo juga menjadi salah satu proritas.Â
Disinggung program apa saja yang diberikan ke warga Ngetuk, Siswanto mengaku tidak hapal detailnya. Intinya pihaknya terus berupaya memberikan kontribusi kepada lingkungan.
“Setiap tahun ada pembagian Sembako dan program pemberdayaan,” imbuhnya.
Terpisah, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (LH) Tuban, Purnomosidi, mengaku telah bertemu pihak SG pada hari Kamis (12/10) kemarin menindaklanjuti rumah retak di Karanglo. Untuk dampak getaran ada 59 rumah, dan SG telah siap memberikan gantu rugi.
“Tinggal masalah administrasi yang ada di desa,” sambung pria ramah ini.
Pantauan di lokasi tambang, jarak rumah warga paling dekat berada di radius 500 meter. Dinding rumah warga bergetar kisaran pukul 12:30 WIB-15:00 WIB, bersamaan dengan peledakan tambang.
Bagi rumah yang dibangun dalam kurun waktu lima tahun terakhir, retakan masih terlihat jelas. Merembet dari bawah ke arah genting. Bahkan ada dinding rumah warga yang tembus, dan tiang peyangga gentingnya geser.
Takut retakan melebar, sesekali warga menembelnya dengan adukan semen biaya sendiri. Dalam lima tahun terakhir warga Ngetuk mengaku tak menerima ganti rugi dari SG. Sekali pernah disurvei, tapi gagal terealisasi karena ada persoalan teknis.
Salah seorang warga terdampak yang enggan disebut namanya, mengaku tidak pernah ada program CSR yang menyasar keluarganya. Baik pelatihan, maupun kegiatan lain yang bersifat pemberdayaan. (aim)