SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Wakil Ketua Komisi C DPRD Tuban, Jawa Timur, Tri Astuti, rela menunda Kunjungan Kerja (Kunker) sehari ke Balikpapan, Kalimantan Timur, demi mendampingi keluarga korban mutilasi asal Desa Tanggulangin, Kecamatan Montong. Bersama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR), politisi Gerindra tersebut turut serta menguatkan psikologis orang tua almarhum M. Arifin (6) pasca insiden berdarah pekan lalu.
“Selain penguatan psikologis keluarga Arifin juga butuh dampingan hukum,” ujar Tri Astuti, kepada suarabanyuurip.com, di sela-sela kunjungannya di Desa Tanggulangin, Selasa (24/10/2017).
Kedatangan wakil rakyat dan KPR, langsung disambut ayah Arifin, Samijo (55), dan ibunya Waniti (45). Suasana duka, dan rasa kehilangan masih nampak di raut wajah kedua orang tua korban.
Astuti terenyuh melihat Waniti lemah tak berdaya. Pasca ditemukannya jasad putra keduanya pada hari Kamis (19/10) lalu, perempuan berkulit sawo matang itu tak mau makan.
“Ibu harus kuat dan mengihklaskan kepergian Arifin,” pintanya.
Tanpa basa-basi, Waniti langsung menceritakan kekecewaannya terhadap Saridi, orang tua pelaku mutilasi, Wusito (33). Hari pertama Arifin hilang, Saridi diduga telah mengetahui kalau ada darah di rumahnya bagian belakang.
Hal ini setelah ada perubahan sikap yang ditunjukan orang tua Wusito. Rasa curiga semakin kuat, ketika Saridi meringkuk di pos kampling. Sekaligus gemetar waktu ditanya besannya, saat tanam jagung di ladang pada hari keempat Arifin hilang.
“Nha omahku ono…nha omahku ono..,” ucap Waniti menirukan ucapan Saridi dengan penuh ketakutan.
Mendengar perkataan itu, Waniti tak mengira buah hatinya yang berumur 6 tahun meninggal dengan tidak wajar. Seandainya, Saridi mengatakan jujur kalau Arifin sudah pasti orang tua Arifin memaafkan.
“Kenapa baru dilaporkan ke Mbah Modin saat jasad anak saya sudah busuk,” geram Waniti dengan mata berbinar.
Ketua LSM KPR Tuban, Imanul Isthofhaina, juga meminta Waniti bersabar dan tidak menangisi anaknya terus. Biarkankanlah adik Arifin tenang di Surga.
“Kalau ibu nangis nanti Arifin juga nangis,” sergah perempuan asli Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan.
Setelah kondisi orang tua korban stabil, KPR bersama pihak terkait bakal memberikan penguatan psikologis. Harapannya kesedihannya tidak berlarut-larut, seiring berjalannya proses pengusutan kasus berdarah tersebut.
Sebelum tiba di rumah korban, wakil rakyat yang membidangi perempuan dan anak menghampiri SDN 2 Tanggulangin tempat Arifin belajar. Kepala SDN 2 Tanggulangin, Ansori beserta puluhan anak-anak, dan guru langsung menyambutnya.
“Terimakasih atas kunjunganya Komisi sepagi ini,” sambung Ansori.
Selama empat bulan sekolah, sosok Arifin dikenal aktif dan lincah. Diantara kawan seusianya dia yang paling berani, termasuk tidak gentar berinteraksi dengan orang dewasa.
Selain memastikan Komisi C selalu ada untuk keluarga korban mutilasi, Astuti juga memberikan sedikit santunan. Harapannya uang tersebut dapat bermanfaat untuk prosesi doa dan tahlil.(Aim)