Ajak Pemuda Stop Perdebatan yang Pecah Belah Bangsa

sumpah pemuda

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban- Bupati Tuban, Jawa Timur, Fathul Huda mengajak seluruh pemuda menyetop segala bentuk perdebatan yang mengarah pada perpecahan bangsa.

“Kita seharusnya malu dengan para pemuda 1928, dan juga kepada Bung Karno, karena masih harus berkutat di soal-soal ini,” kata Fathul Huda saat memimpin upacara Hari Sumpah Pemuda Ke 89 di Alun-alun Tuban, Sabtu (28/10/2017).

“Sudah saatnya kita melangkah ke tujuan lain yang lebih besar yakni mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia,” lanjut dia.

Menurut Fathul Huda, masyarakat Bumi Wali (sebutan lain Tuban) harus bersyukur dan berterima kasih kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo yang selama ini memberikan perhatian terhadap pembangunan kepemudaan Indonesia. 

Pada bulan juli 2017 yang lalu, Presiden telah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2017, tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Pelayanan Kepemudaan. Melalui Perpres ini, peta jalan kebangkitan pemuda Indonesia terus digelorakan.

Bersama pemerintah daerah, organisasi kepemudaan dan sektor swasta, kita semua harus bergandengan tangan, bergotong royong melanjutkan api semangat sumpah pemuda 1928.

“Saatnya semua pihak berani bersatu untuk kemajuan dan kejayaan Indonesia,” tegasnya.

Dalam membacakan sambutan Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Imam Nahrawi, Fathul Huda menyampaikan saat ini Bangsa Indonesia patut bersyukur atas sumbangsih para pemuda Indonesia dahulu yang sudah melahirkan sumpah pemuda.

Baca Juga :   Hidupkan Lagi Denyut Nadi Bengawan Jero

Sudah seharusnya kita meneladani langkah-langkah dan keberanian mereka, hingga mampu menorehkan sejarah emas untuk bangsanya.

Bupati dua periode ini meminta membandingkan era tersebut dengan era sekarang ini. Sarana transportasi umum sangat mudah, untuk menjangkau ujung timur dan barat indonesia hanya dibutuhkan waktu beberapa jam saja.

Lebih dari itu, untuk dapat berkomunikasi dengan pemuda di pelosok-pelosok negeri cukup dengan menggunakan alat komunikasi. Tidak perlu  menunggu datangnya tukang pos hingga berbulan-bulan lamanya. 

“Interaksi sosial dapat dilakukan 24 jam kapanpun dan di manapun,” tegas Bupati asal Kecamatan Montong.

Anehnya justru dengan berbagai macam kemudahan yang di miliki hari ini, justru lebih sering adanya selisih paham. Bahkan mudah sekali menvonis orang, mudah sekali berpecah belah, saling mengutuk satu dengan yang lain, menebar fitnah dan kebencian. 

Seolah ini dipisahkan oleh jarak yang tak terjangkau, atau berada di ruang isolasi yang tidak terjamah, atau terhalang oleh tembok raksasa yang tinggi dan tebal yang tidak dapat ditembus oleh siapapun. Padahal, dengan kemudahan teknologi dan  sarana transportasi yang di miliki hari ini, seharusnya lebih mudah untuk berkumpul, bersilaturahim dan berinteraksi sosial.

Baca Juga :   Kapolres Tinjau Tanggul Kali Apur

Sebetulnya, tidak ada ruang untuk salah paham apalagi membenci, karena  semua hal dapat dikonfirmasi dan diklarifikasi. 

Mengutip pernyataan Presiden Republik Indonesia yang pertama, Bung Karno dalam sebuah kesempatan “Jangan mewarisi abu sumpah pemuda, tapi warisilah api sumpah pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, satu bangsa, dan satu tanah air.

“Tapi ini bukan tujuan akhir,” terangnya.

Pesan yang disampaikan oleh Bung Karno tersebut sangat mendalam, khususnya bagi generasi muda indonesia. Api sumpah pemuda harus di ambil dan terus di nyalakan. 

“Saatnya kita harus berani melawan segala bentuk upaya yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Sekaligus berani melawan ego kesukuan, keagamaaan dan kedaerahan kita,” tndasnya.

Karena ego tersebut yang kadangkala mengemuka dan menggerus persaudaraan sesama anak bangsa. Untuk itu semua elemen bangsa harus berani mengatakan bahwa persatuan indonesia adalah segala-galanya, jauh di atas persatuan keagamaan, kesukuan, kedaerahan, apalagi golongan.

Dalam upacara tersebut dihadirkan perwujudan keanekaragaman budaya Indonesia dengan digunakannya pakaian adat dari 34 Propinsi Se-Indonesia. Dilanjutkan pembacaan naskah Sumpah Pemuda, oleh pasukan Bhinneka Tunggal Ika dari perwakilan siswa-siswi di Kabupaten Tuban. (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *