Bupati Akui Sulit Bangkitkan Minat Baca Masyarakat

bazar buku

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora – Sulitnya membangkitkan minat baca masyarakat diakui oleh Bupati Blora, Djoko Nugroho. Menurutnya, membangun jalan dan membangun gedung masih lebih mudah, dibandingkan  membangun pandangan dan kesadaran untuk membaca.

Untuk itu, dalam penanganan masalah tersebut, Bupati meminta kepada kepala sekolah di Blora mencari cara dan trik jitu untuk meningkatkan minat baca anak.

”Kalau perlu dipaksa dulu tidak apa-apa,” kata dia dalam pembukaan bazar buku di Gor Mustika Blora, Selasa (1/11/2017) kemarin.

Karena dengan pemaksaan itu, kata dia,  nantinya akan menimbulkan kebiasaan untuk membaca.

Soesilo Toer penulis buku asli Blora, mengakui jika minat baca masyarakat di Blora masih kurang. Dia memberikan contoh, perpustakaan di rumahnya yang sudah berdiri selama 11 tahun hingga saat ini tidak pernah didatangi oleh warga sekitar Blora.

Untuk sekarang ini, lanjut dia, perhatian pemerintah atas pembaca sudah mulai baik. Bahkan, semua buku yang pengarangnya asli Blora dibeli oleh  Dinas perputakaan Blora. ”Ini lebih baiklah dari tahun sebelumnya,” tutur adik dari Pramoedya Ananta Toer itu.

Baca Juga :   Sebagai Penghasil Migas, Bojonegoro Jadi Kantong TKI

Untuk diketahui, minat baca di Indonesia masih sangat minim. Bila dihitung, hanya sekira 0,01 %, atau hanya 1000 banding 1.

Kepala Dinas Kearsipan Dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, M Masrofi menyatakan, saat ini Indonesia menempati peringkat ke 60 dari 61 negara dalam minat baca.

Menurutnya,  Indonesia masih kalah dengan negara-negara se Asean. Bahkan dengan Vietnam dan Thailand yang termasuk negara-negara yang baru merdeka.

Melihat kondisi itu, perlunya upaya untuk terus meningkatkan pembinaan untuk minat baca. ”Paling tidak nantinya minat baca ini bisa meningkat 100 banding 1 atau sampai 10 banding 1,” tuturnya.

Pada (16/10/2017) lalu, lanjut dia, saat Menteri Keuagan Sri Mulyani melakukan pertemuan di Bank Dunia dan IMF, Indonesia masih memerlukan waktu hingga 45 tahun untuk mengejar ketertingalan dalam minat membaca, dan butuh 75 tahun untuk ilmu pengetahuan. (Ams)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *