SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Seiring belum jelasnya Groundbreaking Kilang Tuban, Jawa Timur, Komisi VII DPR RI meminta Pertamina lebih serius dan kembali mempertanyakan komitmen Rosneft Oil Company asal Rusia. Apakah sebagaimana kesepakatan awal dapat diwujudkan, dengan banyaknya skenario dunia yang berubah.
“Kilang itu kan dipakai membuat BBM dan penggunanya hampir 90 persen adalah transportasi,” ujar Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Satya Widya Yudha, kepada suarabanyuurip.com, di Kawasan Mangrove Center Tuban, Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu, Sabtu (4/11/2017).
Sekarang moda transportasi tersebut bagaimana. Ketika moda transportasi berubah dari BBM ke BBG, otomatis kebutuhan BBM berkurang. Sebaliknya ketika kebutuhan BBM berubah ke listrik, juga mempengaruhi ketergantungan BBM.
Dilain sisi, ada sisi positifnya ketika kebutuhan BBM menyusut karena mempengaruhi ketergantungan impor. Berjalannya waktu, defisit transaksi berjalan Indonesia juga menjadi mengecil.
“Pertanyaannya bagaimana dengan komitmen mitra Pertamina dari negeri Beruang Merah itu,” tegas Yudha.
Adanya perubahan skenario dunia, apakah Kilang Tuban tetap dibangun sesuai dengan kapasitas awal. Bisa saja dengan fenomena beralihnya BBM, kapasitasnya dikurangi. Awal produksi 300 ribu Barel Per Hari (BPH), bisa dikurangkan menjadi 100 ribu BPH.
Dalam kesempatan yang sama, Yudha juga mengadakan pertemuan tertutup dengan para Kades sekitar kilang. Dia meminta pemerintah desa berhati-hati, sekaligus mengamati cermat progres pembangunan kilang ini.
“Jangan sampai kita menjanjikan pada rakyat tapi projek itu tidak sebesar yang kita duga,” terangnya.
Sementara rakyat mulai sebagian mebebaskan lahan, dan sudah merubah pola kehidupannya seiring menjelang adanya industri. Ternyata nantinya ukuran produksi kilang lebih kecil.
Tak pelak, Komisi VII mendorong Pemerintah untuk melakukan evaluasi kerjasama Pertamina dengan Rosneft. Soal pendanaan proyek lebih besar Rosneft dibanding Pertamina.
“Kuncinya Rosneft ini serius apa tidak,” tandasnya.
Pasca Direktur Utama PT Pertamina, Elia Masa Manik menunda proyek kilang New Grass Root Refinery (NGRR) Tuban, Jawa Timur, pada awal Juni lalu, perusahan plat merah patungan Rosneft Oil Company Rusia itu tidak tinggal diam. Sampai medio 2017, sudah ada tiga progres utama yang telah dicapai.
Informasi dari Pertamina MOR V, Pertamina pusat sedang memproses izin Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Terakhir sembilan Kepala Desa (Kades) di Kecamatan Jenu, bersama Organisasai Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Tuban, telah mengusulkan 12 item dalam penilaian Amdal pembangunan Kilang Tuban.
Masukan tersebut meliputi percepatan pembayaran tali asih kepada penggarap lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Pengajuan dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk pelatihan pra proyek, proyek, dan operasi kepada masyarakat sembilan desa terdampak.
Ditambah klasifikasi pra proyek yakni ekonomi produktif (peralihan mata pencaharian). Saat proyek yakni ketenagakerjaan menyesuaikan kebutuhan project. Sedangkan pada waktu operasi fokus pada ketenagakerjaan berbasis skill menyesuaikan kebutuhan Pertamina.(Aim)