Komida Berikan Program Pembiayaan Sanitasi Warga Miskin

komida

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro -  Lembaga non profit dan non pemerintah Water.org bekerjasama dengan Koperasi Mitra Dhuafa (Komida) saat ini terus melakukan peningkatan kesadaran perilaku hidup bersih bagi masyarakat di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Direktur Operasional Komida, Sugeng Priono, mengatakan, selama dua tahun terakhir telah memberikan kontribusi kepada seluruh anggotanya untuk mendapatkan akses air bersih dan sanitasi.

“Banyak anggota Komida di seluruh Indonesia, salah satunya di Bojonegoro yang tidak memiliki jamban dan saluran air bersih,” ujarnya saat memberikan materi pada acara Media Visit dan Workshop Jurnalis Tentang Peran Lembaga Keuangan untuk Akses Air Bersih dan Sanitasi bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah di Hotel Aston, Sabtu (18/11/2017).

Akibat tidak memiliki jamban tersebut, lanjut dia, menyebabkan datangnya penyakit sehingga anggota Komida yang sebagian besar adalah perempuan ini harus mengeluarkan biaya ekstra, usaha berhenti karena harus merawat anak atau suami yang sakit, dan pendapatan berkurang.

“Oleh sebab itu, 90 persen sasaran Komida adalah warga di pedesaan,” imbuhnya.

Dengan menjadi anggota, Komida memberikan pinjaman untuk sanitasi dengan bunga yang sangat ringan yaitu 1,9 persen setiap bulannya. Cara pembayaran yang dilakukan juga menggunakan sistem pendekatan kekeluargaan.

Baca Juga :   Kampus Ungu - EMCL Gelar Semiloka

“Anggota tidak perlu datang kekantor untuk membayar pinjaman, cukup petugas kami yang jemput bola setiap minggunya,” ujarnya.

Pembiayaan sanitasi yang diberikan tersebut, juga dilakukan secara sistematis. Misalnya untuk membangun jamban, anggota sudah memiliki rancangan pembangunan mulai material hingga tukang.

“Memasukkan pembiayaan sanitasi ini sebagai salah satu indikator keberhasilan cabang,” ucapnya.

Di Kabupaten Bojonegoro, dari tiga cabang yang dimiliki yakni di Kecamatan Ngasem, Kalitidu, dan Dander tercatat 12.000 perempuan miskin yang menjadi anggota. Sebanyak 500 anggota masih aktif untuk pembiayaan sanitasi sementara 300 anggota telah lunas.

“Kita targetkan tahun depan 2.500 anggota sudah memiliki jamban dan saluran air bersih melalui pembiayaan tersebut,” tandasnya.

Setelah memiliki jamban, banyak sekali dampak yang dirasakan anggota Komida. Diantaranya memiliki sarana sanitasi dan air yang layak, kesehatan keluarga semakin terjaga, kualitas hidup semakin meningkat dan skema anggaran sesuai dengan penggunaan pembiayaan sehingga angusran terasa lebih ringan.

Perwakilan Water.org, Musfarayani, mengatakan, Water.org sudah melakukan kerjanya di beberapa negara selama 25 tahun, dan sudah empat setengah tahun ini memulai programnya di Indonesia. Beberapa pendekatan kemudian ditawarkan oleh Water.org antara lain dengan memberikan peningkatan kapasitas kepada pengelola dan penyedia air dan sanitasi, mengenalkan skema alternative pembiayaan keuangan mikro (microfinance) untuk air-sanitasi dan pengelolaan air minum sanitasi berbasis masyarakat.

Baca Juga :   Hingga Agustus, 272 Warga Bojonegoro Terjangkit DBD

“Ke depan dalam cita-cita water.org adalah ketika suatu hari nanti setiap orang memiliki akses air bersih ke depan dan sanitasi yang layak dan bermartabat,” imbuhnya.

Akses terhadap air bersih yang aman di negara berkembang memungkinkan masyarakat untuk hidup lebih sehat, lebih produktif, memberikan harapan pada perempuan, kesehatan untuk anak-anak, dan masa depan bagi masyarakat.

Hal ini sejalan dengan tujuan dari Pemerintah Indonesia untuk mencapai 100 persen akses air bersih dan sanitasi di Indonesia melalui Rencana Pemerintah Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang disusun oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/BAPPENAS).

Sementara itu, salah satu anggota Komida, Supeni (45), warga Desa Kolong, Kecamatan Ngasem, mengatakan, selama ini dia bersama keluarganya tidak memiliki jamban. Barulah tahun 2015 bisa membangunnya setelah mendapat pembiayaan dari Komida.

“Sebelum punya jamban, kita buang air besarnya di cubleng atau lubang yang dibuat sendiri untuk menampung kotoran,” pungkas wanita yang berprofesi sebagai buruh tani ini.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *