Sebut Permasalahan Bau Ditunggangi Kepentingan Lain

Penyelesaian bau limbah

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora – Permaslahan bau sekitar Main Gathering Sistem (MGS) Menggung milik Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, terindikasi ditunggangi kepentingan lain. Hal itu terungkap dalam pertemuan antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora, Jawa Tengah, dengan jajaran manajemen Pertamina, Rabu (20/12/2017) kemarin.

Hadir dalam acara Sekda Blora Bondan Sukarno, Danramil  05/Cepu Kapten Inf Surana, Kapolsek Cepu AKP Slamet, Camat Cepu Djoko Sulistiyono, Kepala DLH Dewi Tedjowati, GM  PT Pertamina EP Asset 4 Didik Susilo, Serta Kepala Kelurahan Ngelo Suparti.

Kepala Kelurahan Ngelo, Suparti, pada kesempatan itu menanyakan kepada Pertamina terkait keterlambatan pengosongan limbah di Main Gathering Sistem (MGS) Menggung dari waktu yang telah ditentukan.

Menurutnya, warga juga menuntut agar pihak Pertamina menyampaikan permintaan maaf kepada warga secara langsung maupun tertulis dan menyampaikan kendala atas keterlambatan pengosongan limbah.

Dia menambahkan, berdasarkan penyampaian dari warga masyarakat RW 2 Kelurahan Ngelo, yang menimbulkan bau itu berasal dari limbah CPP Gundih milik Pertamina EP Asset 4 Field Cepu.

Baca Juga :   Warga Lebih Nyaman EPF Dimatikan

Lebih lanjut Suparti menyampaikan, warga juga meminta agar Pertamina memperhatikan warga ring 1.

“Mungkin memberikan kompensasi, pembangunan di daerah warga sekitar dan terpenting lagi kemarin warga meminta agar Pertamina memberikan fasilitas kesehatan secara gratis,” ujarnya.

Pihaknya mengungkapkan, dalam permasalah itu memang ada muatan oleh orang-orang tertentu mengenai tenaga kerja. “Warga menginginkan bisa ikut bekerja di Pertamina,” terangnya.

Kapolsek Cepu AKP Slamet, menyampaikan, bahwa sebelum menghadiri undangan bupati, sempat melakukan pengecekan di lokasi sekitar penampungan.

“Sebelum berangkat, saya bersama Bapak Danramil Kapten Inf. Surana melaksanakan pengecekan ketempat penampungan limbah dan ternyata, ya memang bau. Tetapi baunya itu sudah berkurang tidak seperti yang kemarin-kemarin. Namanya juga limbah pasti permukiman disekitarnya terkena imbasnya,” katanya.

Dari pertemuan beberapa kali yang telah dilakukan, dia menyimpulkan bahwa kegiatan itu ada pihak yang menumpangi. “Pada intinnya menginginkan sebuah  pekerjaan, itu saja,” jelas Slamet.(ams)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *