SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Sikap tegas Badan Kerja Sama (BKS) Blok Cepu yang memutuskan mundur dari proyek Jambaran-Tiung Biru (J-TB) bukan tanpa alasan.Â
Setelah melakukan kajian yang mendalam, akhirnya BKS menganggap proyek yang di operatori Pertamina EP Cepu (PEPC)Â tersebut sudah tidak ekonomis untuk dikelola.
“Sebelum mundur kita sudah melakukan kajian terlebih dahulu. Dan hasilnya memang lapangan J-TB tidak ekonomis,” kata Ketua BKS Blok Cepu sekaligus Direktur Utama PT Asri Dharma Sejahtera (ADS), Ganesha Ashari, kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (28/12/2017).
BKS Blok Cepu ini terdiri dari Petrogas Jatim Utama (PJU/BUMD Jawa Timur), Sarana Patra Hulu Cepu (SPHC/BUMD Jawa Tengah), Asri Dharma Sejahtera (ADS/BUMD Kabupaten Bojonegoro), dan Blora Patragas Hulu (BPH/BUMD Kabupaten Blora).
“Semua sepakat mundur,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Operasional PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS), Tonny Ade Irawan, mengaku, siap mengelola Participating Interest (PI) di J-TB jika memang diamanahkan oleh Pemerintah setempat.
“Kami siap,” ujarnya singkat.
Disinggung terkait modal, Tonny, enggan menjabarkannya dengan gamblang. Namun yang jelas, persiapan saat ini adalah membentuk anak perusahaan khusus menangani PI di J-TB nantinya.
“Semua sedang dipersiapkan,” pungkasnya.
Seperti diketahui, biaya investasi proyek di J-TB ini mencapai US$ 1,547 miliar atau sekira Rp 20 triliun. Sedangkan untuk hasil produksi gas telah dibeli oleah PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dengan harga US$ 7,6 per MMBTU.(rien)