SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban-  Operator minyak dan gas bumi (Migas) Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited ( EMCL) membuka kesempatan seluas-luasnya bagi lulusan Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Kabupaten Tuban, Jawa Timur, yang berkeinginan bekerja di perusahaan hulu Migas asal Amerika Serikat (AS) di Bojonegoro. Namun salah satu kuncinya mampu berkomunikasi dengan baik, dan bermental pantang menyerah.
“Yang bekerja di Banyuurip bukan hanya lulusan teknik, tapi ilmu lain juga kami butuhkan,” ujar  Field External Affairs Manager Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL), Dave A. Seta kepada suarabanyuurip.com, di sela-sela kuliah umum di Aula Rektorat Unirow lantai II, Kamis (18/1/2018).
Pria jebolan Universitas Gadjah Mada (UGM), itu mengaku banyak karyawan dari jurusan sosiologi dan hukum yang bertahan di ExxonMobil sampai sekarang. Sebagian berkutat di produksi minyak sebesar 200 ribu barel per hari (bph), dan lainnya fokus di program kemasyarakatan.
Untuk itu, Dave-panggilan akrabya, berpesan bagi lulusan Unirow Tuban tidak perlu ragu atau pesimis. Melalui kuliah umum yang menjadi konsentrasi program Corporate Social Reaponsibility (CSR) EMCL di bidang pendidikan, diharapkan terbangun mindset optimis dari mahasiswa.
“Optimis mampu berkomunikasi itu intinya,” jelas pria ramah ini.
Pada kesempatan itu, Dave sapaan menjelaskan profil EMCL melalui video. Di hadapan puluhan mahasiswa dan dosen kampus swasta di Jalan Manunggal 61, perjalanan minyak dari Lapangan Banyuurip ke FSO Gagak Rimang terlihat jelas dan sumbangsihnya untuk kepentingan nasional.
Beberapa program bantuan air bersih, pengelolaan biogas, dan industri kreatif di Bojonegoro juga ditampilkan. Dave menegaskan, program serupa juga diterima masyarakat Tuban umumnya dan khususnya di jalur pipa minyak.
Dalam kesempatan yang sama, Rektor Unirow Tuban, Supiana Dian Nurtjahyani, menambahkan sinergi antara EMCL dan Unirow ini berkelanjutan supaya menjadikan branding kampus lebih baik. Terhitung sudah tiga tahun kerjasama ini terjalin, hasilnya banyak pengalaman dan pengetahuan yang diterima mahasiswa khususnya industri MigasÂ
Dosen Biologi ini berpesan kepada semua peserta untuk membuat rangkuman atau kajian dari materi yang telah disampaikan untuk disandingkan dengan teori yang didapat. Tujuannya agar tulisan tersebut menjadi saksi keabadian penulisanya.
“Mengingat komunikasi ada dua macam yaitu lisan dan tulis,” sambung Dian sapaan akrabnya.
Melalui penjelasan dari perwakilan EMCL, Dian berharap mahasiswanya mendiskusikan dengan praktisi komunikasi di perusahaan migas yang menghasilkan minyak 25% dari produksi nasional itu (EMCL, red).
Saat ini, menurut Dian, ilmu komunikasi memiliki peluang yang luas di dunia kerja. Belum lulus dari Unirow pun, banyak mahasiswa yang sudah bekerja di dunia kerja komunikasi, baik radio, media online, maupun televisi.
“Dengan sharing ini mahasiswa tidak akan kesulitan sewaktu aplikasi di lapangan,” terangnya.
Sebagaimana diketahui, bagi hasil produksi minyak Banyuurip 85%nya milik Pemerintah. Sedangkan 15% sisanya milik Kontrak Kontrak Kerja Sama (KKKS) EMCL. Tahun lalu, minyak menjadi komoditi yang menyumbang APBN sebesar Rp300 triliun.
Sekalipun 25% minyak nasional berasal dari Banyuurip, tapi negara masih butuh minyak impor sebanyak 800 ribu bph. Hal ini dikarenakan terjadinya kesenjangan antara produksi dan tingkat konsumsi minyak nasional yang mencapai 1,6 juta bph. (aim)