SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
Blora – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora, Jawa Tengah, menganggap Perusahaan Gas Negera (PGN) tidak serius menangani gas Rumah Tangga (SR) di wilayah Blok Gundih.
“Masak dari awal launching sampai sekarang baru 599 SR (sambungan rumah) yang mengalir (gas in),†kata Kepala Bidang Fisik dan Prasarana, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Djati Walujastono.
Menurut Djati, PGN tidak serius menangani SR ke pelanggan pemakai gas di sekitar Central Processing Plant (CPP) Gundih Pertamina EP Asset 4 Field Cepu.Â
Dia mengaanggap, permintaan warga masih banyak yang belum terlayani. Sehingga dirinya menyarankan supaya anak perusahaan PGN, Pegas Solution (Pegasol) yang menangani jaringan pipa gas (jargas) segera menambah personel dan peralatan yang diperlukan dalam pemasangan SR.Â
Dirinya masih ragu dengan target Pegasol yang hanya 790 SR. Mestinya, lanjut dia, target 4000 SR. “Kami menghimbau agar Pegasol segera memasang SR lebih banyak lagi. Dulu waktu saya survei masyarakat antusias sekali dalam pemasangan,†jelasnya.
Pihaknya menduga, masyarakat pelanggan gas sudah apriori dengan jargas, lantaran sudah lama menunggu tapi tidak kunjung dilakukan pemasangan sampai sekarang.
“Jelas pemasangan SR sangat lambat dan tidak serius,†tandasnya.
Djati bertanya-tanya mengapa sampai sekarang baru 599 SR. Padahal, saat dirinya berkunjung di wilayah Sumber, warga sangat antusias mengharapkan gas segera mengalir ke rumah mereka.
“Ini ada sesuatu yang disembunyikan oleh PGN atau Pegasol, apa masalah sebenarnya,†tanyanya.
Memang, lanjut dia, ada beberapa masalah dilapangan. Diantaranya, penghuninya sudah tua atau tidak mau dialiri gas, rumahnya sdh dijual atau pindah rumah atau hal lain.
“Tapi ini jumlahnya sedikit dibanding degan calon pelanggan yang mengharap segera dipasang. Kalau begini penanganannya berarti proyek village gas/jargas di Blora tadak sesuai perencanaan,†tandasnya.
Dirinya membandingkan, dengan di Semarang yang saat ini sudah lebih banyak rumah tangga menikmati gas melalui jargas.
“Padahal mulainya lebih dulu Kabupaten Blora dan sumbernya juga sama dari Gundih,†terangnya.
Menurut dia, perbedaan antara Semarang dengan Blora ada pada konsultan perencanaan proyek, konsultan pelaksanaan, konsultan pengawas proyek dan operator yang mengalirkan gas ditangani sepenuhnya oleh PGN.
“Sementara di Blora, konsultan perencanaan proyek, konsultan pelaksana proyek dan konsultan proyek, yang bertanggung jawab kepada kementerian ESDM. Baru operator yang mengalirkan gas, dalam hal ini dilimpahkan ke PGN,†terangngya.
Pihaknya mengakui, jika ada persoalan lain di lapangan dari hasil pekerjaan konsultan pelaksana sebelumnya. “Tapi kalau PGN sudah bersedia sebagai operator untuk mengalirkan gas, maka harus gerak cepat agar proyek ini berhasil sesuai perencanaannya. Salah satunya adalah segera mengalirkan gas sebanyak 4000 SR,†tandasnya.
Dia berharap, Jargas di Blora menjadi lebih baik lagi sehingga masyarakat sekitar segera bisa memanfaatkan jargas yang lebih ekonomis dan aman.(ams)