SuaraBanyuurip.com -Â Ali ImronÂ
Tuban-Â Harga garam Kabupaten Tuban, Jawa Timur, pada tahun 2017 kemarin, membukukan sejarah dengan harga termahal yakni Rp4.000/kilo gram (Kg). Harga ini terpaut jauh dibanding sepanjang tujuh tahun terakhir yang hanya Rp150/kg.
“Garam tertinggi harganya Rp3.500 sampai Rp4.000/Kg,” ujar Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (DPP) Tuban, Amenan, kepada suarabanyuurip.com, saat ditemui waktu lalu di Desa Cempokorejo, Kecamatan Palang sekitar Stasiun Pipa Minyak Palang dari Lapangan Banyuurip menuju FSO Gagak Rimang, Rabu (31/1/2018).
Di awal tahun ini, harga garam kembali merosot sampai Rp2.000/Kg. Kendati demikian, harga garam tersebut masih jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat sebesar Rp1.250.Â
“Patokan harga itu tidak bisa turun tapi bisa naik per Rp250,” imbuh mantan Kabag Kesra Setda Tuban itu.
Pemkab Tuban sekarang ini berkomitmen menyetabilkan harga garam di wilayahnya. Perlahan nasib 168 petambak/petani garam yang menggarap 300-400 hektare tambak di Kecamatan Palang, dan Tambakboyo harus sejahtera.
Pertama, pemkab berupaya mencukupi sarana prasarana petambak dengan bantuan geomembran untuk meningkatkan kualitas garam dibanding menggunakan alas tanah.Â
Permodalan petambak juga menjadi prioritas pemerintah. Hal ini untuk menekan dominasi tengkulak garam ketika panen raya. Terakhir adanya resi gudang garam nasional, sangat membantu untuk menyetabilkan harga.
“Jika panen raya petambak tak perlu buru-buru menjual garamnya,” pinta Amenan.
Sementara ini, resi gudang yang dibangun dengan dana APBN Rp1.593.900.000 mulai 2018 beroperasi di bawah pengelolaan Koperasi Ronggolawe.
“Kedepan kita upayakan setiap petambak menitipkan garam langsung diganti uang tunai,” jelasnya.
Bupati Tuban, Fathul Huda juga mengakui, nasib petambak garam masih jauh dari harapan Pemkab Tuban. Salah satunya karena biaya produksi masih mahal dibanding harga jual garam.
“Saat banjir garam Tuban sudah punya resi gudang,” sergah Bupati dua periode itu.
Resi gudang di Desa Cempokorejo ini memiliki kapasitas 2.000 ton. Sedangkan produksi garam per tahunnya mencapai 35 ribu ton. Apabila di waktu panen tak mampu menampung garam, tentu akan dievaluasi berkala.
“Kita akan perluas lagi gudangnya,” janji Bupati asal Kecamatan Montong itu.
Seorang petambak garam asal Palang, Mudi (47), mengaku hasil garamnya kerap dikirim ke luar Tuban. Mudi mengeluh adanya kebijakan impor garam sangat meresahkan ekonomi petambak. Akibat kebijakan tersebut, harga garam di pasar biasanya hanya Rp280/Kg.
“Sekarang perkilonya tinggal Rp230 bahkan Rp210,” keluhnya. (aim)