Kementan: Panen Bagus, Harga Gabah Anjlok

Panen padi tuban

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban - Saat memanen padi di Desa Kendalrejo dan Mojoagung, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia (RI) tak mau membahas lagi kebijakan impor beras. Data skala nasional panen padi sangat bagus, tetapi harganya anjlok.

 “Harga gabah anjlok,” ujar Dirjen Tanaman Pangan Kementan RI, Sumardjo Gatot Irianto, kepada suarabanyuurip.com usai panen raya, Kamis (8/2/2018).

Gatot sapaan karibnya menjelaskan, panen raya skala nasional terus terjadi bergiliran. Kedatangan Kementan dan TNI ke Tuban, untuk memastikan gabah langsung dibeli oleh pemerintah dan petani mendapatkan uang tunai di sawah.

Anjloknya harga gabah, menurut Gatot, karena efek pemberitaan media kalau panen raya. Pria berperawakan gempal itu, menyebut awak media lebih sering mengutip statmen pihak yang tidak punya data panen padi dibanding dengan Kementan.

“Untuk antisipasi harga anjlok kita beli langsung,” tegasnya.

Awal tahun ini, Kementan RI telah menyiapkan anggaran Rp10 miliar lebih, untuk membeli 20 ribu ton gabah. Untuk harga gabah per kilogramnya, tergantung kualitasnya mulai cara panen dan kadar airnya.

Baca Juga :   DPS Pilkada Tuban Ditetapkan 938.686

“Kalau saya sebut harga nanti kalian pukul rata,” bebernya.

Di tempat yang sama, Aster Kasad, Mayor Jendral TNI, Supartodi, menambahkan, TNI terus memonitor ketahanan pangan di wilayahnya. Khususnya Kodim 0811 Tuban, per harinya rata-rata mampu menyerap 250 ton gabah.

“Hitungan itu akan terjadi sampai bulan Juni mendatang,” sergahnya.

Gabah yang telah dibeli TNI, nanti akan dikeringkan dan diolah menggunakan mesin. Apabila sudah siap, beras akan disetor ke Bulog.

Wakil Bupati Tuban, Noor Nahar Hussein, menjelaskan, luasan panen raya di Desa Kendalrejo mencapai 89 hektare, dan di Mojoagung 155 hektare.

Pada bulan Februari ini, panen di Kabupaten Tuban hampir tembus 10 ribu hektare. Meningkat di bulan Maret mendatang, akan mencapai 22 ribu hektare.

“Bulan Maret kita panen raya,” jelas Wabup dua periode ini.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Tuban mencatat, di tahun 2017 Tuban memiliki luas tanam 203.238 hektare. Dari luasan tersebut, yang berhasil panen sekira 101.156 hektare dan menghasilkan gabah 627.774 ton.

Baca Juga :   Inspektorat Nilai Koridor Hukum Kerjasama PT BBS dengan PT EDBS Tidak Tepat

Jika dihitung kebutuhan pangan 1,3 juta jiwa, dengan asumsi per jiwa menghabiskan 120 Kg per tahun, maka hanya 157.819 ton yang dibutuhkan masyarakat. Otomatis surplus beras 60,06% per tahun, atau setara 237,303 ton.

“Dasar inilah yang menjadikan Pemkab Tuban menolak keras impor beras,” tegas politisi PKB Tuban itu.

Wabup kelahiran Kecamatan Rengel ini khawatir, jika beras impor datang di bulan Februari harga gabah di daerah akan terpengaruh. Untuk itu, Kementan harus tegas dan memberikan rekomendasi kepada Kemendag ketika mengimpor hasil pertanian.

Untuk meningkatkan serapan gabah (sergab), Noor Nahar berharap pembelian gabah petani langsung berjalan terus di 20 kecamatan. Jangan hanya saat seremonial saja, karena petani Tuban butuh kepastian.(Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *