SuaraBanyuurip.com – Ririn WediaÂ
Bojonegoro – Salah satu kendala dalam percepatan kesejahteraan masyarakat diantaranya karena masih sulitnya akses transportasi jalan. Sekretaris Daerah (Sekda) Bojonegoro sebagai pelaksana, perencana, dan pengontrol jalannya program menangkap kondisi itu.
Sekda Bojonegoro, Soehadi Moeljono mengatakan, dalam program pemerintah kedepan untuk mempercepat kesejahteraan masyarakat, beberapa hal diantaranya yang paling dasar adalah mempermudah akses jalan agar roda perekonomian bergerak lebih cepat.
Beberapa akses jalan poros desa dan kecamatan yang sebelumnya menggunakan paving akan diubah dengan pembangunan jalan beton. Sepeti yang sudah dilakukan di sisir selatan Bojonegoro. Poros jalan kecamatan mulai turut wilayah perhutani yang biasa disebut Paldaplang hingga Desa Deling, Kecamatan Sekar.
“Pembangunan jalan menggunakan paving nanti hanya digunakan pada jalan gang yang tidak dilalu mobil dengan kapasitas besar,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (10/2/2018).
Pembangunan poros jalan menggunakan beton pada alokasi anggaran tahun 2016 dari Paldaplang hingga Desa Deling, Kecamatan Sekar atau sepanjang 4,6 kilometer ini sebesar Rp13,4 miliar. Selain jalan, pembangunan akses listrik pedesaan di Jonopuro, sebesar Rp1,9 miliar.
“Selanjutnya akan dilakukan pembangunan jalan desa menuju Jonopuro dan sanitasi air. Kedepan akan terus ditingkatkan untuk percepatan kesejahteraan rakyat di sekitar hutan agar segera terwujud,” ungkap Pak Mul.
Pemerintah rencananya pada tahun 2019 juga akan menggelontorkan bantuan program kepada masyarakat sekitar hutan melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Agar pogram tersebut bisa terlaksana sesuai sasaran, kedepan secara keorganisasian LMDH akan dimasukkan pada kelembagaan desa.
“Sehingga LMDH ini nanti bisa terkontrol. Masalah kekurangan pupuk yang dialami LMDH ini karena secara administrasi mereka belum terdaftar di pemerintahan,” terangnya.
Terbentuknya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat serta Perhutani ini diharapkan bisa mengatasi potensi masalah yang ada di sekitarnya. Termasuk menghidupkan industri kreatif bagi masyarakat khususnya ibu-ibu untuk mengembangkan hasil pertanian hutan.
“Sehingga menjadi masyarakat yang tangguh,” tegasnya. (rien)