SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
Blora – Pemerintah Desa (Pemdes) Pulo, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menyebut bahwa Pertamina gagal melakukan pembebasan lahan di Desa Pulo, karena warga diberi waktu berfikir dan mempertimbangkan tawaran harga lahan dari Pertamina tidak ada keputusan yang jelas.
“Pembebasan lahan di Pulo gagal, Mas, karena warga tidak memberikan kepastian,” kata Kepala Desa Pulo, Sukarno, kepada Suarabanyuurip.com, Rabu (14/2/2018).
Menurut Sukarno, Pertamina berencana akan mengalihkan penanaman pipa ke Desa Wadu. “Kabarnya pindah ke Wadu,” ujarnya.
Jadi, lanjut dia, dari sumur yang ada di Desa Bajo, pipa gas langsung menuju Desa Wadu melalui lahan Perhutani. “Tapi sebelum sampai Desa Wadu, ada beberapa hektar lahan pemajakan milik warga,” terangnya.
Land Matter Analyst Pertamina EP Asset 4, Rahardyan Prasetyo, saat dikonfirmasi terkait hal itu, mengaku masih melakukan penjajakan. “Semua opsi masih penjajakan,” kata dia.
Diberitakan sebelumnya, persoalan lahan untuk kebutuhan jalur pipa gas dari sumur NKT di Desa Bajo, Kecamatan Kedungtuban menuju sumur KTB di Desa Pulo untuk selanjutnya dilanjutkan ke Central Processing Plant (CPP) Gundih Pertamina EP Asset 4 Field Cepu di Desa Sumber, Kecamatan Kradenan, sampai sekarang masih belum terselesaikan.
Sehingga, Pertamina belum melanjutkan tahapan berikutnya dalam rencana operasi sumur tersebut. Untuk diketahui, dua desa yang rencana dilalui pipa gas masih menemui jalan buntu. Warga Desa Tanjung menolak jika pipa Pertamina melalui lingkungan di Desa Tanjung. Padahal, warga pemilik lahan sudah menerima uang muka untuk pembebasan lahan.
Sementara, warga di Desa Pulo, menolak harga lahan dari Pertamina. Karena dianggap terlalu redah dari harga yang diinginkan warga. Namun, warga masih diberi kesempatan untuk berfikir sampai waktu yang tidak ditentukan.(Ams)