Stok BBM Hanya 21 Hari, Bahlil Beri Penjelasan Cara Kerja Stok BBM Seperti Toren Air

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

SuaraBanyuurip.com – Kabar stok bahan bakar minyak (BBM) Indonesia hanya 21 hari telah memicu punic buying di tengah masyarakat belakangan ini. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan, stok 21 hari yang dimaksud adalah daya tampung, sehingga bukan berarti stok BBM akan habis di waktu tersebut karena daya tampung akan terisi langsung setelah volume berkurang.

Bahlil menjelaskan, kapasitas tampung tangki timbun di dalam negeri memang terbatas. Angka stok BBM yang setara dengan 23 hari bukan berarti persediaan tersebut akan habis dalam waktu 23 hari. Angka itu hanya menggambarkan kapasitas stok yang tersimpan di tangki penyimpanan pada suatu waktu.

“Dengan keterbatasan daya tampung tangki timbun (BBM) kita yang ada, kapasitas tampung kita itu tidak lebih dari 25 hari. Sementara yang tersedia stok yang ada kapasitasnya hingga 23 hari. Tetapi bukan berarti 23 hari ini habis. Bukan itu maksudnya. Itu daya tampungnya,” jelasnya di tayangan Podcast Bukan Abuleke Kementerian ESDM di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Untuk memperjelas cara kerja pasokan, Bahlil memberi perumpamaan sederhana. Kata dia, stok BBM ibarat toren air yang akan terisi ulang secara otomatis saat volume berkurang.

Baca Juga :   Masyarakat Tidak Mampu di Daerah 3T Jadi Sasaran Program BPBL

“Jika stok BBM 3 hari keluar, maka produksi di kilang kita juga keluar untuk mengisi stok yang ada. Masuk lagi, isi lagi, kayak toren air di rumah kita. Iya, kayak gitu. Toren air di rumah, dipakai mandi, habis itu kan mesinnya langsung mompa lagi. Jadi jangan dipikir 21 hari itu minyak kita habis. Bukan itu maksudnya,” jelasnya.

Menurut Bahlil, stok BBM bersifat dinamis karena setiap hari ada BBM yang didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sementara pada saat yang sama pasokan baru juga terus masuk, baik dari produksi kilang dalam negeri maupun dari impor.

Bahlil menambahkan bahwa pasokan BBM tidak hanya bergantung pada satu sumber. Selain dipasok dari produksi kilang dalam negeri. Ketersediaan BBM juga diperkuat melalui impor dari berbagai negara, tidak hanya bergantung pada pasokan dari kawasan Timur Tengah. Pasokan tersebut juga diambil dari negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, sehingga situasinya aman dan tidak terkait langsung dengan kondisi di Selat Hormuz.

Sebagai langkah jangka panjang, lanjut Bahlil, pemerintah akan meningkatkan kapasitas penyimpanan. Rencana itu mencakup pembangunan infrastruktur penyimpanan baru yang mampu menampung stok BBM setidaknya untuk tiga bulan, sesuai standar nasional.

Baca Juga :   Besok, Menteri ESDM Kunjungi Blok Cepu

“Ini sesuai arahan dari Bapak Presiden Prabowo,” tegasnya.

Bahlil mengimbau masyarakat agar tidak khawatir terhadap ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) serta tidak membeli BBM secara berlebihan. Pasokan BBM nasional dalam kondisi aman karena produksi dan distribusi terus berjalan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sesuai standar stok operasional yang telah ditetapkan pemerintah.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto mengakui, ketegangan yang terjadi di Timur Tengah sekarang ini memengaruhi stabilitas energi dunia, karena wilayah tersebut merupakan jalur penting perdagangan minyak dunia. Sekitar 20 persen lalu lintas migas global melewati Selat Hormuz, sehingga setiap konflik di kawasan tersebut dapat berdampak pada pasokan energi internasional.

“Saya menilai Indonesia memiliki posisi yang relatif aman karena tidak bergantung pada satu sumber impor minyak. Pasokan minyak mentah diperoleh dari berbagai negara seperti Aljazair, Angola, hingga Amerika Serikat, sehingga risiko gangguan pasokan dapat diminimalkan melalui diversifikasi sumber impor,” terangnya.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait