SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
Blora – Perekonomin penambang minyak sumur tua di kawasan Ledok, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mengalami peningkatan. Seiring dengan meningkatnya harga minyak serta tingginya kapasitas produksi sumur tua di wilayah Ledok.
Ketua Perkumpulan Penambang Sumur Tua Desa Ledok, Supratono menjelaskan, bahwa usaha sumur tua telah berdampak pada kesejahteraan para penambang. Terlebih sejak setahun terakhir, harga minyak mentah terus mengalami peningkatan.
“Sehingga berpengaruh pada meningkatnya ongkos angkat dan angkut minyak dari sumur tua,” terang Supraptono, kepada Suarabanyuurip.com.
Menurutnya, sejak awal tahun hingga akhir tahun 2016 lalu, harga minyak mentah mengalami keterpurukan. Sehingga, penghasilan penambang juga memburuk karena ongkos angkat angkut minyak mentah sumur tua mengalami penurunan.
Kondisi perminyakan sumur tua berangsur membaik, kata dia, dimulai pada awal hingga akhir tahun 2017. Secara bertahap harga minyak mengalami kenaikan, sehingga ongkos angkat angkut yang diterima penambang juga meningkat.
“Puncaknya sekarang ini, awal tahun 2018 harga minyak mentah cukup bagus. Ongkos angkat angkut juga membaik. Dampak perekonomian penambang juga bagus atau maningkat,” terangnya.
Suparat, sapaan akrab Supraptono, menambahkan, membaiknya perekonomian penambang diiringi dengan gaya hidup hedonis (kesenangan).
“Karena mereka punya uang banyak. Terlebih dengan persaingan gaya hidup dilingkungan pasti ada,” kata dia.
Saat ini, ongkos angkut yang dibayarkan Pertamina kepada Koperasi Unit Desa (KUD) maupun Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), bulan Februari 2018 sebesar Rp3.576,31 per liter. Penambang menerima bersih 77% dari harga tersebut atau senilai Rp2.753,7587 per liter.
“Itu diterima setelah dikurangi beberapa komponen,” ujarnya.
Dari total sumur tua di lapangan Ledok sebanyak 196 titik, lanjut dia, sebanyak 107 titik telah berproduksi. “Itu pun tidak semua berproduksi baik, kadang ada juga yang mengalami kemacetan,” kata Suparat.
Jika dirata-rata, pengiriman hasil produksi minyak sumur tua berkisar antara 25.000 liter sampai 30.000 liter setiap harinya. “Rata-rata produksi dari total 107 titik yang beroperasi,” ungkapnya.
Sebelumnya, Direktur Utama BUMD Blora, PT Blora Patra Energi (BPE), Christian Prasetya menyatakan, bisnis Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sumur minyak tua ini masih menarik.
“Masih sangat bagus dan tidak bisa diremehkan,” katanya.
Bisnis itu dikatakan UMKM, kata dia, jika kapasitas kreditnya mencapai Rp500 juta. “Dan bisnis ini masuk kategori UMKM,” jelasnya.
Dari sektor itu, penambang bisa memperoleh keuntungan lumayan. Selain itu, penyerapan tenaga kerja juga bagus.
“Dari sisi ekonomi berdampak langsung kepada masyarakat,” terangnya.(ams)