SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Rencana reaktivasi Bandara Ngloram di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, harus diimbangi dengan penyiapan masyarakat. Baik secara moral, skill, dan kewirausahaan supaya bisa mengambil peluang usaha dari pengoperasian Bandara Ngloram.Â
“Jangan sampai terjadi peribahasa, jangan menjadi budak di kampung sendiri. Warga setempat harus terakomodir dalam sektor-sektor ekonomi pasca pembangunan reaktivasi Bandara Ngloram,” kata Kepala Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Blora, Djati Walujastono kepada suarabanyuurip.com, Minggu (25/2/2018).
Dia berharap pembangunan bandara bisa menjadi berkah bagi masyarakat Blora dan sekitarnya. “Berkah artinya bermanfaat bagi segala hal, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, dan tentunya masa depan masyarakat Indonesia khususnya, dan masyarakat sekitar bandara utamanya,” terangnya.
Untuk mencapai tujuan itu, lanjut dia, sebaiknya pemerintah baik di daerah, regional dan pusat berupaya maksimal menyiapkan kompetensi dan keterampilan warga sekitar agar dapat menankap peluang-peluang ekonomi yang akan muncul.
“Pemerintah jangan lalai mempersiapkan mental masyarakat agar tidak kalah bersaing. Keterampilan, ekonomi, bisnis, pendidikan dan aspek lain perlu dibangun,” tandas pria asli Cepu ini.Â
Sesuai perencanaan reaktivasi Bandara Ngloram diklasifikasikan sebagai Bandara Domestik Pengumpan. Artinya ditetapkan sebagai bandara udara yang melayani rute penerbangan dalam negeri, juga sebagai bandara udara yang mempunyai cakupan pelayanan dan mempengaruhi perkembangan ekonomi terbatas.
Awalnya, menurut Djati, Bandara Ngoram diproyeksikan sebagai bandara udara khusus untuk melayani kepentingan sendiri dalam menunjang kegiatan pokok. Seperti kegitan pendidikan Akamigas, dan pusat pendidikan dan pelatihn migas, serta kegiatan Pertamina EP assest IV Cepu.
Untuk tahun 2018 ini, kata Djati, mulai dilakukan perencanaan seperti pembuatan Master Plan, DED (Detail Engineering Design), AMDAL, KKOP (Kawasan Keselamatan operasi penerbangan) ditambah pemagaran sekitar bandara dan overlay/hotmix existing Runway 900 meter (m).Â
“Sehingga sudah bisa dipakai untuk pesawat charter, Medivac (pesawat untuk pelayanan kesehatan) dan pesawat latih seperti DHC-6 (Twin Otter), CN-212, atau pesawat Turbo Prop berpenumpang sedikit,” jelasnya.
Sedangkan pada tahun 2019 nanti, pembangunan fisik baru dilakukan dengan perluasan bandara. Diantaranya, memperpanjang Runway dari 900 m menjadi 1350 m sehingga sudah bisa dipakai untuk pesawat ATR 72-500/600.Â
“Dalam perancanaan jangka panjang dilakukan perpanjangan Runway sampai sekitar kurang lebih 2500 m. Sehingga pesawat Boeing dan Airbus dan jenis pesawat Turbo Fan lainya bisa landing dan take off di Bandara Ngloram,” pungkasnya. (ams)