Tergerus Kali Kening, Tiga KK Harus Tinggalkan Rumah

Tergerus air bah

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban - Luapan Kali Kening yang memiliki hulu di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, sekitar pukul 03:00 WIB dini hari tadi telah mengikis tebing batas rumah warga di Dusun Kedungringin, Desa Kedungjambangan, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Sebanyak tiga Kepala Keluarga (KK) secepat mungkin, harus meninggalkan kediamannya.

“Mereka harus segera pindah ke tempat yang aman,” ujar Kasi Rehabilitasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Edi Prawoto, kepada suarabanyuurip.com, usai melakukan pendataan dan cek lokasi longsor, Rabu (28/2/2018).

Edi menjelaskan, kondisi tebing di Dusun Kedungringin sangat memprihatinkan. Dari tujuh KK di sekitar anak Sungai Bengawan Solo ini, yang paling terdampak dan harus segera mengungsi adalah tiga KK atas nama Suparno, Nursalim, dan Warni.

Air bah yang datang tiba-tiba tersebut, langsung menggerus tepi sungai seluas 50 meter persegi. Selain itu menimbulkan retakan di jarak enam meter dari bekas longsor awal.

“Kami sarankan untuk tidak menempati rumahnya,” pinta pria berkacamata itu.

Baca Juga :   884 Pelamar CPNS di Bojonegoro Tidak Memenuhi Syarat

Untuk menanggulangi longsor, BPBD sudah menyiapkan bronjong, sesek, dan trucuk. Berikutnya akan koordinasi dengan Camat, dan Pemdes Kedungjambangan. Hasilnya baru disampaikan ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo Provinsi Jatim selaku pihak yang berwenang di Kali Kening.

Sementara, pemilik rumah Ima Fatmawati (30), mengaku was-was setiap kali ada kiriman air bah dari hulu. Hujan lebat yang terjadi sejak pukul 21:30 WIB hari Selasa (27/2) kemarin, membuatnya tak bisa memejamkan mata.

“Kalau hujan lebat pasti keluar rumah dan lihat ketinggian air sungai,” bebernya dengan raut wajah sedih.

Tepat pada pukul 03:00 WIB dini hari, Tinggi Muka Air (TMA) Kali Kening setara dengan teras rumahnya. Saat puncak air bah datang, warga setempat yang terdiri dari tujuh KK, langsung membunyikan kentongan sebagai tanda bahaya.

Perempuan beranak dua ini bertanya-tanya, kenapa tidak ada bantuan apapun dari Pemerintah Daerah maupun BBWS Bengawan Solo untuk warganya. Sebenarnya harus kemana mengadu, soal ancaman longsor akibat luapan Kali Kening itu.

Baca Juga :   Jalur KA Bojonegoro Terdampak Tabrakan, Batal Tiket Diganti 100 Persen

“Sejak tahun 2013 sudah longsor dan hanya di foto oleh petugas desa,” bebernya.

Ima sapaan akrabnya juga sempat dijanjikan oleh pamong desa, kalau tahun 2015 akan dibangun plengsengan. Nyatanya sampai periode kedua Pemerintahan Bupati Huda, plengsengan belum terwujud.

Lebih dari 5 tahun, tujuh KK di Dusun Kedungringin hidup di bawah ancaman longsor. Dua rumah sudah pindah, karena tanahnya tergerus setiap tahunnya.

“Tanah saya tinggal satu petak yang di tempati rumah ini,” terang perempuan berkulit sawo matang itu.

Selama ini, Ima bersama dua anaknya langsung mengungsi saban air bah datang. Hal yang paling ditakutkan ketika surutnya air cepat, karena langsung berdampak longsor.

Saat ini, keluarganya berencana mengungsi di tempat mertuanya yang jauh dari sungai. Diharapkan pemerintah juga memberikan tanah sepetak untuknya, karena sudah tidak punya apa-apa lagi. (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *