SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Pasca banjir luapan Sungai Bengawan Solo, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Tuban, Jawa Timur, langsung aksi mengajukan ratusan hektare tanaman padi di tiga kecamatan untuk memperoleh klaim asuransi dari Jasindo. Langkah strategis ini, sebagai jaminan bahwa pemerintah selalu hadir untuk petani.
“Banjir Bengawan Solo telah menerjang 714 hektare sawah di Kecamatan Soko, Rengel, Plumpang” ujar Kepala DPKP Tuban, Murtadji, saat dikonfirmasi suarabanyuurip.com di kantornya, Jumat (2/3/2018).
Murtadji menjelaskan, untuk Kecamatan Widang semua lahan pertanian sudah panen. Di Kecamatan Soko ada 140 hektare sawah teedampak banjir, dan yang masih ada tanamannya hanya 72 hektare.
Sedangkan untuk Kecamatan Rengel ada 549 hektare lahan terdampak, dan semua masih ada tanamannya. Sementara di Kecamatan Plumpang untuk tanaman padi yang terendam ada 5 hektare, dan jagung ada 20 haktare.
Berkat komunikasi yang baik, di tahun 2018 ada 41.000 hektare sawah yang masuk dalam asuransi AUTP. Secara otomatis, untuk lahan pertanian di Kecamatan Soko, Rengel, dan Plumpang semua masuk AUTP.
“Untuk mendapatkan klaim asuransi sendiri merupakan kewenangan Jasindo,” terang mantan Camat Bancar itu.
Pria berkacamata ini mengaku, yang penting tugas dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan sudah memfasilitasi. Sekaligus mengajak pimpinan Jasindo ke lokasi untuk melihat langsung dampak banjir sungai terpanjang di Pulau Jawa ini.
Berapa luas lahan yang mendapatkan klaim asuransi, nanti menunggu hasil verifikasi Jasindo. Dikarenakan ada Standart Operasional Prosedur (SOP) nya, dan pengecekan ke lapangan.
Secara umum pendataan luas lahan pertanian berjalan lancar, dan hanya ada kendala sedikit karena untuk laporan tertulis ada laporan F7. Laporan itu harus ada tanda tangan by name by addres, dan masih ada jalan yang tergenang sehingga belum bisa menemui semua petani yang terdampak.
Pasca banjir awal tahun ini, DPKP Tuban sudah mengumpulkan semua UPTD, penyuluh, bidang tanaman pangan maupun sarpras pertanian di 20 kecamatan. Pertama harus ada langkah mengantisipasi serangan hama pasca banjir, supaya masa tanam berikutnya sempurna.
“Yang kita khawatirkan pasca banjir ada serangan hama,” jelas Murtadji.
Sementara, salah satu petani terdampak banjir di Kecamatan Rengel, Mustar, berharap asuransi dari Jasindo segera cair. Semakin cepat, tentu akan menguntungkan petani karena bisa memulai masa tanam lagi.
“Harga gabah yang terendam banjir sekarang hanya Rp2.500/Kg,” pungkasnya.(Aim)