Peningkatan Layanan Mutu Pendidikan Mendesak Dilakukan

Cabup Soehadi Moeljono

SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia

Bojonegoro – Rasa nyaman dalam mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), sepertinya belum dirasakan seluruh siswa SMP berstus negeri di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Kondisi infrastruktur gedung, dan fasilitas pendukung sekolah yang memprihatinkan termasuk jadi  penyebabnya.    

Setidaknya hal itu dirasakan, Viona Shafida (14), siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kalitidu, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengaku, terganggu dengan kondisi kelasnya yang beratap esbes. Setiap hari mulai pukul 10.00 WIB sampai pelajaran selesai, udara di dalam kelasnya terasa panas.

“Tidak nyaman, tak bisa konsentrasi seratus persen,” ucapnya kepada wartawan ditemui di sekolahnya, Rabu (21/4/2018).

Untuk mengusir udara panas para siswa menggunakan kertas tebal atau buku untuk kipas. Usul membeli kipas angin sudah disampaikan, namun tidak ada aliran listrik yang bisa digunakan. 

“Rencananya mau urunan sama teman-teman beli kipas angin, tapi ternyata tidak ada aliran listriknya di kelas kami,” ungkap ketua kelas ini. 

Tembok ruang kelas retak, dan catnya mengelupas,  menjadikan ruang tak terlihat rapi dan indah. Para siswa berniat menempelkan hasil kreasi ataupun pajangan lainnya untuk menutup kerusakan tersebut.

Baca Juga :   PMII UT Bojonegoro Gelar Pelatihan Menejemen Tata Organisasi

“Tapi takutnya tambah retak. Kalau cuma di solasi gampang copot. Akhirnya ya dibiarkan kusam dan jelek saja ruangannya,” tutur siswi asal Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu ini.

Secara terpisah, Tri Pamungkas (14), pelajar SMP Negeri 1 Trucuk, Kecamatan Trucuk, mengaku, masih ada beberapa kekurangan di kelasnya meski tidak menganggu KBM. 

“Seperti alat peraga, jadi pelajaran yang diberikan pakai materi saja,” ujarnya. 

Menurutnya, pemberian mata pelajaran hanya dengan materi dirasa kurang. Siswa akan lebih mudah mencerna materi kalau menggunakan alat peraga. 

“Di sini banyak yang tidak lengkap, jadi setiap hari pakai gambar-gambar saja yang ada di buku belajarnya,” ungkap siswa asal Desa Kanten, Kecamatan Trucuk ini.

Kedua siswa tersebut  berharap, kedepan ada peningkatan sarana prasarana di lembaga pendidikan dari Pemkab,  supaya pelajar bisa berprestasi.  Sekaligus ditunjang dengan sekolah gratis. 

Hal tersebut, menurut mereka, semata untuk memintarkan anak-anak Bojonegoro. 

Kabid SMP Dinas Pendidikan Bojonegoro, Pudji Widodo, mengatakan, pihaknya menggunakan skala prioritas dalam memperbaiki, dan membangun fasilitas pendidikan yang kondisinya rusak. Apalagi ada keterbatasan anggaran untuk perbaikan infrastruktur lembaga pendidikan. 

Baca Juga :   Guru Kenakan Kebaya Saat Mengajar

Untuk tahun anggaran 2018, Pemkab Bojonegoro akan merehab bangunan di dua unit SMPN. Anggaran yang disiapkan sebanyak Rp551 juta. 

Cabup Bojonegoro, Soehadi Moeljono,  sangat paham terhadap kondisi infrastruktur, dan fasilitas sekolah yang memprihatinkan, mendesak diperbaiki. 

“Harus disadari bahwa kenyamanan belajar menjadi kunci keberhasilan layanan pendidikan. Ini yang akan kita berikan kepada anak-anak Bojonegoro,” tegas Pak Mul, sapaan akrab Soehadi Moeljono. 

Oleh sebab itu, dia bersama Cawabup Mitroatin, menjadikan perbaikan dan peningkatan infrastruktur   pendidikan sebagai program prioritas. Jika fasilitas bangunan dan peeraga untuk KBM bagus, guru dan siswa bakal nyaman menjalankan aktivitas.

“Ini sudah menjadi prioritas program kami kedepan,” tegas mantan Sekda Bojonegoro yang telah 32 tahun mengabdi di Pemkab setempat. (rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *