SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Fasilitas sarana prasarana, dan kualitas pendidikan di Kabupaten Bojonegoro, ternyata tak imbang antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Hal itu menyebabkan mutu dan layanan pendidikan pun tak merata.
Satu misal di wilayah Kecamatan Kalitidu. Dari 26 unit SDN di wilayah ini sebanyak dua sekolah mengalami kerusakan berat. Tragisnya lagi, sudah lima tahun belum tersentuh perbaikan.
Dua lembaga itu adalah SDN Mojo, dan SDN Ringinrejo. Dari enam ruangan yang ada di SDN Ringinrejo, tiga diantaranya rusak berat.
Sedangkan untuk SDN Mojo, tiga ruangan kelas terpaksa dirobohkan karena bangunannya sudah mengkhawatirkan, dan tidak layak pakai.
“Kami sudah mengupayakan untuk mengajukan perbaikan kepada Pemkab Bojonegoro. Tapi belum ada realisasi,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan Kecamatan Kalitidu, Sujatmiko, kepada wartawan, Kamis (22/3/2018).
Diakui, dengan kondisi sekolah rusak berat, dan jumlah ruang kelas terbatas menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) terganggu. Siswa tidak maksimal mendapatkan pelajaran.
“Kondisi dua sekolah itu, seperti di desa tertinggal. Kami kira sudah tidak ada, ternyata masih ada,” ungkap Sujatmiko.
Menurut dia, peningkatan fasilitas infrastruktur sekolah yang harus diprioritaskan adalah perbaikan, dan penambahan ruangan kelas. Pihaknya berharap, kedepan Pemkab bisa meningkatkan sarana dan prasarana.
“Sehingga bisa mendukung keberhasilan serta prestasi anak Bojonegoro,” pungkasnya.
Kondisi serupa terjadi di wilayah Kecamatan Trucuk. Dari 16 SDN yang ada tiga unit diantaranya butuh peningkatan infrastruktur sarana dan prasarana.
Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Trucuk, M Syaifudin, menjelaskan, tiga sekolah yang kondisinya memprihatinkan tersebut adalah SDN Trucuk 1, SDN Guyangan, dan SDN Sranak. Ketiga sekolah ini ketika musim penghujan tiba selalu kebanjiran.
“Itu sangat menganggu proses belajar mengajar siswa,” imbuh Syaifudin.
Selama ini, jika turun hujan semua siswa dipindahkan dari ruang kelas yang sekiranya tidak nyaman, ke ruangan kelas lain.
“Kita sudah upaya mengajukan peninggian bangunan kepada Pemkab Bojonegoro,” tandasnya.
Namun, tambah dia, karena ada efisiensi anggaran dari Pemkab maka perbaikan ruang kelas yang rusak maupun peninggian bangunan, masih belum dilakukan.
“Tahun ini sudah kita ajukan, dan sudah disurvei. Tapi kapan pelaksanaannya belum tahu,” tandasnya.
Pihaknya sangat mendukung jika ada program peningkatan infrastruktur sekolah di wilayah Trucuk. Supaya bisa meningkatkan prestasi siswa dan membanggakan masyarakat Bojonegoro, khususnya warga Trucuk.
“Harapannya kepada Pemkab Bojonegoro kedepan, ya bangunan SD disini diprioritaskan,” pungkasnya.
Dimintai tanggapannya, salah satu Cabup Bojonegoro, Soehadi Moeljono, mengatakan, pihaknya menyadari pentingnya meningkatkan layanan mutu pendidikan di semua tingkatan. Diantaranya melalui perbaikan infrastruktur dan kelengkapan sarana prasarana. Tanpa fasilitas yang memadai KBM tak bisa berjalan maksimal.
“Ini sudah menjadi prioritas program kami kedepan. Mereka adalah generasi Bojonegoro harus mendapat layanan pendidikan yang baik,” tegasnya.
Mantan Sekda yang dalam Pilbup Bojonegoro berpasangan dengan mantan Ketua DPRD setempat, Mitroatin, itu menyatakan, kedepan kualitas semua lembaga pendidikan akan ditingkatkan agar terjadi pemerataan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Baik dari segi sarana prasarana maupun tenaga pengajarnya.
Nantinya masyarakat dari wilayah pedesaan, tambah Pak Mul, sapaan akrabnya, tidak lagi hanya memilih sekolah di perkotaan, karena mutu pendidikan di wilayah mereka sudah meningkat.
“Ini sebagai bentuk keadilan bagi masyarakat dalam memperoleh layanan pendidikan,” tandas Pak Mul. (rien)