Tuban Integrasikan Peternakan, Perikanan, dan Pertanian

Integrasi peternakan

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban- Dinas Perikanan dan Pertanakan (Diskanak) Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mengintegrasikan program peternakan, perikanan, dan pertanian di Kecamatan Parengan, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melaui terobosan ini masyarakat memperoleh tambahan nilai yang lebih menghasilkan. 

“Konsep ini meliputi semua aktifitas ekonomi yang saling berkaitan dan bermanfaat,” ujar Kepala Diskanak Tuban, Amenan, kepada suarabanyuurip.com, Kamis (22/3/2018).

Amenan mencontohkan dipilihnya budidaya lele dalam program ini, karena air dari kolam lele masih banyak mengandung protein tinggi, sehingga sayang jika di buang. Proteinnya tersebut bisa digunakan sebagai bahan baku untuk tanaman cabe.

“Intinya limbah air kolam lele masih bisa bermanfaat,” tegasnya.

Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang berkantor di Jalan Panglima Sudirman Tuban itu, ingin mengoptimalkan aspek pendapatan tidak hanya pada produksi saja. Melainkan petani bisa memperoleh pendapatan harian, bulanan dan tahunan. 

“Sehingga pendapatan mereka meningkat,” tandasnya.

Program ini memberikan potensi pendapatan kelompok tani lebih jelas. Setiap tiga bulan mereka bisa panen lele, juga ternak sapi yang dibantu dalam keadaan bunting diperkirakan tiga bulan lagi lahir. Serta cabe yang bisa panen tiga sampai empat bulan lagi. 

“Ini lebih menguntungkan hasilnya, jauh melebihi pendapatan mereka jika hanya mengurusi lele atau cabe saja. Karena dengan lahan terbatas semua seumberdaya yang ada bisa dioptimalkan,” tuturnya.

Baca Juga :   Harga Beras di Bojonegoro Masih Stabil

Pengoptimalan juga bisa dilakukan untuk pakan ternak sapi. Lahan bisa ditanami rumput odot, sehingga bahan makanan ternak sudah tersedia setiap saat dan tidak perlu mencari lagi. 

“Adapun kotoran sapi sendiri bisa dijadikan  pupuk. Intinya tidak ada limbah yang tidak bisa di maksimalkan pemanfaatannya,” terangnya. 

Lokasi program ini merupakan usulan petani. Syaratnya luas lahan minimal 1500 sampai 200 meter persegi. Jika compare hasilnya melebihi yang lahannya seluas satu-dua hektar.

Pria yang juga aktif di PCNU Tuban ini, menambahkan selama 2017 lalu, telah ada 18 kelompok masyarakat yang menerima program ini. Namun untuk integrasinya menyesuaikan dengan kondisi masing-masing. 

Anggaran program ini diambilkan dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Tahun ini Disnakan mendapat alokasi satu milyar rupiah untuk dibagi kepada lima kelompok masyarakat yaitu di Desa Panyuran, Brangkal, Pandan Agung, Menturo, dan Sumurgung, Kecamatan Parengan. 

Sementara, Kepala Desa Brangkal, Zainal Muttaqin, menilai, program integrasi ini sangat membantu dalam menambah pendapatan warganya yang tergabung dalam Pokmas Rukun Makmur. Dengan lahan seluas hanya 7300 meter, dapat ditempati untuk ternak sapi, lele dan tanaman cabe. 

Baca Juga :   Pemerintah Kembali Buka Ekspor Minyak Goreng, Ini Alasannya

Dari luas tersebut baru setengah yang dimanfaatkan. Sedangkan sisanya direncanakan untuk tanaman tanaman cabe jenis imola dan colombus.

“Kedua Cabe itu dirasa memiliki harga dipasaran yang lumayan tinggi,” sergah Kades ramah ini. 

Untuk budidaya lele sebanyak delapan kolam dengan jumlah benih 12 ribu ekor. Setiap kolam berisi benih 1500 ekor.

“Saat ini sudah siap untuk dipanen,” ucpanya.

Program ini mendapat apresiasi Bupati Tuban, Fathul Huda. Bupati dua periode itu berharap bisa kembangkan kepada kelompok tani lainnya.

“Jika memang terbukti menguntungkan program ini harus di tularkan kepada kelompok lainnya,” pinta Bupati kelahiran Kecamatan Montong ini. (aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *