BHM : Tugas Jurnalis Tak Jauh Beda dengan BIN

wartawan Tempo

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro – Keberadaan industri minyak dan gas bumi (Migas) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, membuat Komisaris PT Tempo Media, Bambang Harymurti atau akrab disapa BHM merasa penasaran dengan pemberitaan lokal seputar migas.

“Saya jadi penasaran, beritanya seperti apa disini,” ujarnya saat santai bersama Jurnalis dan Pimpinan Media di Hotel Aston, Jalan Mastrip, Bojonegoro, Rabu (28/3/2018).

Menurutnya, keberadaan industri Migas, salah satunya di Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, yang dioperatori ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) lebih banyak memberi berkah daripada bencana.

“Saya sangat senang berada disini, tadi sudah keliling Blok Cepu dan luar biasa, ternyata sudah produksi hingga 200 ribu Barel per hari (Bph),” ungkapnya.

Keberadaan Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, ini merupakan salah satu sumber berita yang pernah di tulis oleh BHM di Tempo saat produksi pertama kali antara tahun 2008 sampai 2009.

“Saat itu saya berfikir, cadangan minyak di Blok Cepu sangat besar. Dan karena desakan pemerintah juga, akhirnya tahun 2008 produksi untuk pertama kali,” tandasnya.

Baca Juga :   Takutkan Ancaman Serangan Teroris di Blok Cepu

Dalam dunia jurnalistik, kata pria berkacamata minus ini, antara jurnalis dan Badan Intelejen Negara (BIN) tugasnya adalah sama. Yang membedakan adalah siapa yang memberikan gaji.

“Kalau BIN yang menggaji adalah negara, kalau Jurnalis yang menggaji masyarakat,” imbuhnya.

Sehingga, jika tugas BIN itu mencari informasi yang akurat agar pemerintah membuat keputusan yang benar, maka tugas jurnalis juga tidak jauh beda.

“Kita sebagai jurnalis tidak boleh mengkhianati pimpinan dengan memberikan informasi yang salah,” ingatnya.

Karena, informasi yang diperoleh di lapangan akan disampaikan ke masyarakat. Sehingga, masyarakat bisa mengambil keputusan yang tepat dari pemberitaan tersebut.

“Kalau hari ini kita menulis berdasarkan kepercayaan kita bahwa itu benar, namun jika esoknya ternyata salah, cepat-cepatlah memperbaiki dan meminta maaf,” tandasnya.

Baginya, ada tiga hal yang harus diingat sebagai jurnalis diantaranya harus menyampaikan kebenaran, meminimalkan dampak negatif terhadap pemberitaan yang disampaikan.

“Yang ketiga, keseimbangan atara dua hal itu yakni menyampaikan kebenaran tapi memetakan dampak negatifnya,” pungkasnya.(rien)  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *