Sekolah Darurat Bencana Perdana di Tuban

Sekolah darurat banjir

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Berawal dari pengalaman banjir besar luapan Sungai Bengawan Solo di tahun 2016 yang menghambat pelaksanaan Ujian Nasional (UN), Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Tuban, Jawa Timur, menggelar simulasi sekolah darurat perdana di atas tanggul Desa Ngadirejo, Kecamatan Rengel.

Sekolah di bawah tenda darurat tersebut, bertujuan mengedukasi sekaligus memotivasi peserta didik Sekolah Dasar (SD) untuk tetap mengikuti Proses Belajar Mengajar (PBM) saat banjir tiba.

“Kami ingin mendidik anak-anak SD di tepi sungai terpanjang di Pulau Jawa bahwa pendidikan harus tetap jalan dalam kondisi apapun,” ujar Koordinator Tagana Kabupaten Tuban, Muhammad Zaenuri, saat dikonfirmasi suarabanyuurip.com, di sela pelaksanaan simulasi tryout di atas tanggul Ngadirejo, Kamis (29/3/2018) kemarin.

Zaenuri menjelaskan, setiap tahun banjir menjadi ancaman serius bagi pendidikan di Kecamatan Rengel yang wilayahnya menjadi jalur pipa minyak dari Lapangan Banyuurip, Blok Cepu menuju FSO Gagak Rimang di Utara Kecamatan Palang. Datangnya bencana tersebut kerap bertepatan dengan waktu tryout atau UN yakni di bulan Desember sampai Januari.

Pada tahun 2016 silam, anak-anak kelas 6 SD terpaksa harus menyusul UN karena sekolah mereka terendam banjir berhari-hari. Untuk mengantisipasi kendala seperti itu, simulasi sekolah daruratlah yang paling efektif.

Baca Juga :   FSIB Unirow Rutin Konservasi Alam

“Kami harapkan setiap tahun supaya anak-anak tetap semangat belajar walaupun banjir,” terang pria berpostur gempal itu.

Sekolah darurat dalam rangka HUT Tagana yang ke-14 ini melibatkan 119 siswa dari delapan lembaga SD yang menjadi langganan banjir. Lembaga tersebut meliputi, SDN Ngadirejo1, SDN Ngadirejo 2, SDN Karangtinoto 1, SDN Karangtinoto 2, SDN Kanorejo 1, SDN Kanorejo 2, SDN Tambakrejo 1, dan SDN Tambakrejo 2 Kecamatan Rengel.

Salah satu peserta tryout asal SDN Tambakrejo 1, Devi, mengaku senang bisa latihan sekolah darurat pertama di Bumi Wali (sebutan lain Tuban). Gadis cilik ini mengaku tak kesulitan mengerjakan 100 butir soal pilihan ganda mata pelajaran Matematika, IPA, dan Bahasa Indonesia.

“Belajarnya asyik tapi hawanya panas karena sekolahnya berada di bawah tenda,” kesan Devi sambil tersipu malu.

Menyikapi terobosan Tagana membuat sekolah darurat, membuat Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Joko Ludiono, langsung mengapresiasinya. Mantan Camat Widang ini meminta Tagana Tuban selalu kreatif, dan mengedukasi masyarakat supaya selalu waspada dan siaga saat pra, terjadi, dan pasca banjir.

Baca Juga :   DPRD Dorong Penambahan Sarpras Pendidikan SMAN 1 Malo Bojonegoro

“Selama Rengel-Soko belum ada tanggul permanen, banjir akan terus mengintai,” sergah Joko.

Saat banjir datang nanti, Joko merasa perlu mengkolaborasikan tanggap bencana dengan membuatkan sekolah darurat. Hal ini tentu membuat hak anak-anak belajar tidak terabaikan. Sedangkan untuk pra bencana, pihaknya melakukan edukasi kepada anak-anak supaya paham apa yang harus dilakukan saat terjadi banjir.

Melihat karakteristik Sungai Bengawan Solo yang berbahaya saat Siaga Merah (SM), Joko meminta masyarakat untuk hati-hati. Bagi warga yang mengungsi untuk tetap di tenda pengungsi. Sedangkan bagi mereka yang bertahan di rumah, untuk tidak kemana-mana.

Ditempat yang sama, Kabid Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Tuban, Harsono Tri Asworo, merasa bangga karena Tagana mampu menjawab solusi pendidikan anak disaat banjir. Salah satunya dengan memanfaatkan tempat pengungsian menjadi lokasi belajar.

“Kami harapkan sekolah darurat bencana bermanfaat bagi lembaga SD yang sering kebanjiran,” pungkas Harsono.(Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *