SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban-Â Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tuban, Jawa Timur, Miyadi, bersama komisinya dalam waktu dekat berencana mengunjungi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) di Jakarta. Lawatan tersebut dalam rangka mengecek izin prinsip lahan dari Kemenkeu ke Pertamina untuk mendirikan proyek Kilang (New Grass Root Refinery and Petrochemial/NGRR) Tuban di Kecamatan Jenu.
“Saat ini kabarnya izin prinsip itu belum diberikan makanya kami ingin memastikannya,†ujar Ketua DPRD Tuban, Miyadi, saat dikonfirmasisuarabanyuurip.com, di gedung DPRD Tuban, Jumat (6/4/2018).
Informasi yang diterima Miyadi, Pertamina tidak bisa memulai kegiatan di Kilang Tuban jika belum mengantongi izin tersebut. Tanpa sokongan dana dari Kemenkeu, tentu proses persiapan di lapangan akan terkatung-katung.
Setelah Pertamina memiliki anggaran, baru dilakukan Penetapan Lokasi (Penlok) dari Provinsi Jatim. Apabila berkas Penlok turun ke daerah, tentu akan mudah memulai proyek pengolahan minyak dengan kapasitas 300 ribu barel per hari (bph) itu.
“Di situ kuncinya,†tegas politisi PKB Tuban itu.
Selama lahan belum final tahap groundbreaking atau pemancangan tiang pertama proyek Kilang Tuban belum bisa dilakukan. Melihat kondisi di lapangan, sangat dimungkinkan baru bisa dilakukan setelah Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang.Â
Apalagi Pertamina memiliki target 6 kilang, meliputi 4 Refinery Development Master Plan (RDMP) atau pengembangan kilang yang sudah ada dan 2 kilang baru atau New Grass Root Refinery (NGRR).
Sebagai informasi, saat ini kapasitas terpasang seluruh kilang Pertamina mencapai 853 ribu barel per hari (bph). Sedangkan kebutuhan minyak Indonesia tercatat sebesar 1,57 juta barel per hari (bph).
Ada empat proyek RDMP yang dikerjakan Pertamina untuk meningkatkan produksi bagan bakar minyak (BBM) di dalam negeri yaitu RDMP Cilacap, Balongan, Dumai, dan Balikpapan. Apabila seluruh RDMP ini selesai, maka kapasitas keempat kilang itu akan naik dari 820 ribu bph menjadi 1,61 juta bph.
Selain itu, 2 kilang baru akan dibangun, yaitu Grass Root Refinery (GRR) Tuban dan Bontang. Masing-masing berkapasitas 300.000 bph. Semua proyek kilang ditargetkan selesai sebelum 2023. Kalau semuanya berjalan lancar, Indonesia tak lagi mengimpor BBM mulai 2023. (aim)