SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
Blora – Bisnis kilang Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia dinilai masih cukup potensial untuk dikembangkan. Sebab, kebutuhan BBM semakin meningkat dan hingga pada tahun 2025 nanti diprediksi tidak ada pengembangan kilang.
Itu terungkap saat Rudy Radjab, Presiden Direktur PT Kreasindo Resources Indonesia, sebuah perusahaan Indonesia yang sudah bekerja sama dengan perusahaan minyak Nakhle Barani Pardis-Iran, menyampaikan materi dalam diskusi panel yang digelar oleh Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Migas Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Sabtu (7/4/2018), yang dikemas dalam Getting Inspired With Expert.
Untuk diketahui, pemerintah saat ini mendorong percepatan pembangunan kilang minyak di dalam Negeri. Hal itu bertujuan supaya ketergantungan impor berkurang, dengan semakin tingginya tingkat konsumsi minyak domestik.
Membangun kilang minyak di dalam Negeri, lenjut dia, penting karena berkaitan dengan ketahanan energi.
“Kalau impor terus, seperti dari kilang Singapura, berarti tergantung terus dengan negara luar. Untuk itu perlu swasembada,†tandasnya dalam rilis yang diterima suarabanyuurip.com.
Rudy melihat, kedaulaatan energy dan ketahanan energy menjadi masalah krusial di suatu negara. Karena menyangkut keamanan Nasioanl dan Pertahanan Nasional.
“Jadi sangat penting sekali membangun kilang,†ujarnya.
Kondisi tersebut, menurur dia, menjadi tolak ukur bahwa potensi bisnis kilang BBM dan Petrokima sangat menjanjikan.
“Karena pasokan dalam Negeri sangat kurang,†kata dia.
Yang perlu dilakukan untuk saat ini, menurut dia, harus melakukan impor BBM maupun minyak mentah. Dari situ ada peluang besar minyak mentah dari luar Negeri bisa masuk dan diolah di Indonesia.
“Jadi tidak harus diproses di kilang luar Negeri,†jelasnya.
Langkah bagusnya, lanjut dia, jika itu berjalan, impor bisa dilakukan hanya pada minyak mentah bukan produknya. Jadi ada nilai tambah bagi Indonesia dalam hal kesempatan kerja.
“Selain itu kedaulatan energy bisa tercipta jika mempunyai kilang sendiri,†terangnya.
Dalam paparannya, Rudy Radjab, menyampaikan, bahwa kebutuhan minyak dunia, diperdiksi mengalami kenaikan cukup signifikan. “Bertambah dari 88.9 milliom barrel per hari (Mbph) menjadi 108.5 pada tahun 2035,†tandasnya.
Kenaikan itu, dipicu tingkat konsumsi wilayah Asia Pasific sebesar 88% dari kebutuhan global dunia. Sementara kapasitas kilang di Indonesia yang terpasang hanya 1.15 Mbph atau 181.578.000 liter per hari.
“Itu merupakan kapasitas paling rendah dari pada negara-negara Asia. Sementara belum ada pengembangan kapasitas kilang sampai tahun 2025,†terangnya.
Sekarang ini, kata dia, industri hilir migas di Indonesia sangat tergantung impor BBM dari luar negeri. Sebab, kilang Pertamina hanya mengolah minyak mentah sekira 852.000 barel per hari (bph). Sementara, konsumsi BBM di Indonesia sudah diatas 1,5 juta bph. Diperkirakan kebutuhan BBM akan mencapai 2 juta bph pada tahun 2025.(ams)