Warga Belum Dilatih Penanganan Bencana Industri Banyuurip

fasilitas produksi

SuaraBanyuurip.comd suko nugroho

Bojonegoro – Pemerintah Desa dan masyarakat ring satu Lapangan Migas Banyuurip, Blok Cepu, di wilayah Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, hingga saat ini belum mendapatkan pelatihan penanganan bencana kegagalan industri. Padahal lapangan minyak yang dikelola anak perusahaan raksasa migas Amerika Serikat, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), itu telah berproduksi puncak sebesar lebih dari 200 ribu barel per hari (bph), dan berpotensi memunculkan potensi bencana yang berdampak pada keselamatan warga sekitar.

“Belum ada. Baik itu kepada pemerintah desa maupun warga,” kata Kepala Desa Gayam, Winto, kepada suarabanyuurip.com, Rabu (11/4/2018).

Menurut Winto, pemerintah desa dan warga perlu mendapat pelatihan penanganan bencana untuk mengantisipasi kegagalan industri dari produksi Lapangan Banyuurip. Tujuannya, jika kegagalan industri terjadi mereka dapat melakukan penanganan baik untuk dirinya sendiri, keluarga maupun orang lain.

“Kita tidak mengharapkan bencana terjadi dan semoga tidak ada bencana di sini. Tapi simulasi ini sangat penting,” tegas bapak satu anak itu.

Baca Juga :   Tunggu Hasil Appraisal TKD Gayam

Dirinya mengaku sampai saat ini belum mengetahui muster point (titik kumpul) jika terjadi bencana kegagalan industri Lapangan Banyuurip.

“Ini perlu disimulasikan agar warga mengetahui,” tandas Sekretaris Paguyuban Kepala Desa se Kecamatan Gayam itu.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, Eko Susanto, mengakui belum ada pelatihan penanganan bencana kegagalan industri Lapangan Migas Banyuurip.

“Kita sudah berupaya koordinasi dengan operator, tapi sulit. Seperti negara di dalam negara,” kata Pak Eko, ditemui terpisah di ruang kerjanya.

Diakui, pelatihan penanganan bencana ini sangat penting dilakukan. Karena kegiatan yang dilakukan di Lapangan Banyuurip memiliki resiko tinggi dan berpotensi menimbulkan bencana.

“Apalagi lokasinya berada di tengah-tengah perkampungan warga yang pada penduduk,” ucapnya.

Menurut Pak Eko, bencana yang harus diantisipasi adalah terkait dampak limbah bahan beracun dan berbahay (B3), dan hydrogen sulfide (H2S).

“Di sana kan sudah beberapa kali terjadi kebocoran gas. Itu berbahaya bagi keselamatan warga. Karena H2S ini tidak terlihat dan terasa tapi bisa mengancam jiwa,” pungkasnya.

Baca Juga :   Cepu Jadi Prioritas Pemasangan Jargas

Diharapkan dengan pelatihan tersebut masyarakat mampu mandiri untuk beradaptasi menghadapi ancaman bencana, dan memulihkan diri dari dampak bencana yang merugikan.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *