Pasangan "Mulyo Atine" Berdayakan Seni Sejak Dini

Mulyo atine

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Minat remaja di Kabupaten Bojonegoro untuk menggeluti seni tari tradisional jumlahnya menurun, jika dibanding tarian modern atau biasa disebut dengan dance.

Fenomena inilah yang ditangkap pasangan calon bupati (Cabup) dan wakil bupati (cawabup) Bojonegoro, Soehadi Moeljono dan Mitroatin, untuk kembali membangkitkan kesenian tradisional.  Diantara programnya adalah menyelenggarakan forum-forum kebudayaan dan kesenian daerah yang mengunggulkan karakter khas Wong Bojonegoro.

Termasuk membangun seribu balai seni dan budaya sebagai wahana berkesenian bagi  masyarakat. Melalui itu warga bisa menyalurkan hobi atau melatih profesi agar memunculkan bibit pelaku seni profesional.

Menurut pelatih tari Sanggar Angling Dharma, Nika Kusumawati, untuk menanamkan jiwa seni dalam diri anak diperlukan peran orang tua. Semisal mulai mengenalkan seni tari saat usia dini atau tingkat TK.

“Tari tradisional ini merupakan warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan,” katanya kepada wartawan, Selasa (17/4/2018).

Eksistensi seni di Bojonegoro dapat terus bertahan melalui proses pelatihan yang dilakukan secara berkala melalui sanggar.

Sayangnya banyak sanggar di Bojonegoro  tidak aktif, dan tidak mampu mencetak penari-penari berkualitas. Sebenarnya banyak seniman tari profesional yang mampu melakukannya.

Diakui, selama melatih di sanggar perhatian yang diberikan Pemkab adalah berupa hibah. Meski nilainya tidak seberapa, namun dengan bantuan tersebut bisa menambah koleksi kostum, dan membeli perlengkapan make up.

“Sebenarnya dulu ada bantuan dari Pemerintah Provinsi berupa honor untuk pelatih tari, tapi  saat disurvei banyak sanggar yang tidak aktif akhirnya dibatalkan,” sesalnya.

Baca Juga :   Sterilkan Anggota Dari Narkoba

Untuk mencukupi kebutuhan para penarinya, sanggar  memberlakukan tarif relatif murah kepada peserta pelatihan. Biaya tersebut untuk menambah insentif, dan uang kas jika ada pentas seni.

“Ada sekitar 250 lebih yang ikut sanggar ini,” tandasnya.

Pihaknya berharap Pemkab memberi perhatian kepada semua sanggar yang ada di Bojonegoro terutama untuk sarana dan prasarana. Selain itu memberikan kemudahan perizinan untuk pertunjukan tari saat memanfaatkan stadion atau alun-alun Bojonegoro, agar pelaku seni bisa tampil maksimal.

“Banyak sanggar tari yang tidak punya tempat. Hal itu membuat kami kesulitan mendapatkan penyandang dana,” tandasnya.

Senada disampaikan Direktur Presidium Sayap Jendela, Tulusno Budi Santoso. Menurutnya, minat masyarakat terutama anak sekolah dan remaja sangat sedikit untuk ikut kesenian menari. Mereka banyak yang lebih menggemari boy band dan girl band yang booming sekarang ini.

Sebenarnya banyak jenis tarian yang selama ini bisa dikembangkan, demi melestarikan budaya Bojonegoro.

“Seakan-akan tarian itu bukan prioritas utama mereka,” tandasnya.

Disinilah sebenarnya peran Pemkab Bojonegoro dibutuhkan. Hal itu belum dirasakan oleh kalangan seni tari yang disebut Tari Hayuningrat.

“Berbicara peran Pemkab, memang sudah seharusnya mereka memberikan pembinaan dan pendampingan,” lanjut Tulus, sapaan akrab pemuda lumayan ganteng itu.

Yang terjadi selama ini, Pemkab melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro belum memberikan hal itu. Justru ketika komunitas Tari Hayuningrat ini sudah matang dan profesional, Pemkab memanfaatkan keterampilan mereka melalui sebuah kontrak kegiatan.

“Ya cuma sekedar memanfaatkan keterampilan teman-teman saja, tanpa memberi pendampingan dari awal proses sampai menjadi seorang penari,” imbuhnya.

Baca Juga :   Calon Independent Minimal Kantongi 65.170 Dukungan

Pihaknya berharap kepada Bupati terpilih mendatang, kedepan, Disbudpar bisa memberikan pendampingan. Artinya, dalam  mengembangkan sebuah kesenian tari haruslah secara utuh mulai dari awal proses sampai tiap-tiap personal tersebut menjadi penari profesional.

“Bukan ketika sudah jadi, langsung dipakai dalam sebuah event, setelah itu selesai,” pungkasnya.

Data di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata  (Disbudpar) Bojonegoro menyebut, jumlah sanggar tari yang aktif tidak lebih dari 10 lembaga. Kepada mereka Disbudpar selalu memberikan pelatihan dan pendampingan, baik berupa sertifikasi para penari dari berbagai tingkatan, pengiriman duta di tingkat provinsi, dan lain sebagainya.

“Banyak dukungan kami terhadap seni dan budaya di Bojonegoro termasuk seni tari,” tukas Kepala Disbudpar Bojonegoro, Amir Syahid.

Pihaknya menghimbu,  setiap kecamatan  meningkatkan budaya tari, dengan mendukung sanggar-sanggar kecil di pinggiran.

“Selain itu kami memberikan edukasi kepada semua lembaga sekolah tentang pentingnya seni tari,” tandasnya.

Dimintai tanggapannya, Cabup Soehadi Moeljono, menyatakan, akan melakukan memberikan pembinaan kepada pelaku seni maupun komunitas seni dan budaya di Bojonegoro, agar lebih berkembang melalui pembinaan dan pendampingan sejak dini. Melalui itu mereka bisa menjadi pelaku seni yang profesional.

“Kita juga akan melengkapi sarana prasarananya dengan membangun seribu balai seni dan budaya agar mereka mudah berlatih dan meningkatkan kreativitasnya,” tegas cabup yang berpasangan dengan Kader NU ini. (rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *