SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban – Aktifitas sumur minyak tradisional di Lapangan Tawun, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, yang dikerjakan Kerja Sama Operasional (KSO) PT Tawun Gegunung Energy (TGE), beberapa hari terakhir berkurang, diduga akibat harga minyak mentah dunia turun.
“Beberapa hari terakhir mereka mengurangi aktifitasnya,†ujar General Manager PT Pertamina EP Asset 4, Agus Amperianto, saat dikonfirmasi suarabanyuurip.com, melalui pesan singkatnya, Jumat (20/4/2018).
Mantan Field Manager (FM) Pertamina EP Asset 4 Cepu ini, belum bisa membeber dampak dari pengurangan aktifitas mitranya itu. Yang jelas, perusahaan plat merah ini terus  menanti rencana kerja mereka berikutnya.
Sebagaimana kontraknya, KSO TGE dipercaya mengelola12 sumur di Lapangan Tawun Desa Kumpulrejo, Kecamatan Bangilan, dan Lapangan Gegunung di Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan. Berapa jumlah minyak yang disetor ke Pertamina, Agus belum mengetahuinya.
Asset 4 Government & Public Relation Assistant Manager PT Pertamina EP, Pandjie Galih Anoraga, juga belum mengirimkan data produksi KSO TGE sejak 2017 sampai 2018. Catatan terakhir suarabanyuurip.com, TGE terakhir mengirimkan minyak ke Pertamina pada bulan Februari 2017 sebanyak 10 ribu liter minyak.
Field Manager KSO PT Pertamina EP Asset 4 Cepu, PT TGE, Ervino, saat dihubungi melalui sambungan teleponnya hanya terdengar nada sambung aktif. Telepon sejak pukul 13:42 Wib belum juga direspon.
Sebatas diketahui, besarnya resiko bisnis minyak dari sumur tua dialami oleh PT TGE. Bulan Juni 2017 lalu, pihaknya berhenti menyuplai minyak ke Pertamina EP. Alasannya minyak dari sumur tua di Desa Mulyoagung menyusut.
Sekalipun demikian, BUMD Tuban itu terus berusaha menambah hasil minyak agar bisa penuhi target. Tim engineering perusahaan terus melakukan analisa.
Di lapangan GGNB Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, terdapat 22 sumur tua peninggalan kolonial, dimana 12 sumur diantaranya dikelola PT. TGE. Sisanya 10 sumur dikelola Perusahaan Daerah Aneka Tambang (PDAT) milik Pemkab Tuban. (aim)