Tak Betah Suara Bising CPA Mudi, Warga Luruk Kantor JOB P-PEJ

Demo JOBP-PEJ

SuaraBanyuurip.com -  Ali Imron

Tuban- Ratusan warga di Dusun Sarirejo, Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, tidak tahan dengan suara bising flare dari Central Processing Area (CPA) Lapangan Migas Mudi, Blok Tuban. Mereka kemudian meluruk office Mudi Pad B yang dioperatori Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB P-PEJ), Rabu (9/5/2018) sore. 

Jarak terdekat rumah warga dengan CPA Mudi hanya 50 meter.

“Kami tak tahan lagi dengan suara bising flare,” ujar perwakilan warga terdampak aktifitas produksi Migas Mudi, Sukiran (48), kepada suarabanyuurip.com saat ditemui di sebelah Utara CPA Mudi.

Sukiran merupakan satu dari 199 kepala keluarga  (KK) di RT 1-4 RW 5 yang rumahnya paling dekat dengan CPA. Dia bersama enam anggota keluarganya mengaku tak bisa bersabar lebih lama mendengar suara bising, dan memutuskan untuk mendatangi kantor JOB P-PEJ, meminta pertanggungjawaban sosial.

Menurutnya, suara bising dari kegiatan produksi minyak di Lapangan Mudi, tidak dapat diprediksi. Biasanya pada malam hari suaranya lebih memekikkan telinga, dan membuat istirahat warga kurang nyenyak.

Pada tahun-tahun sebelumnya, Sukiran merupakan salah satu perwakilan warga yang dimintai tanda tangannya jika ada kegiatan insidental di CPA Mudi. Tugasnya memberitahu warga lain, supaya tidak kaget jika ada suara bising melebihi normal.

Baca Juga :   Flaring Blok Cepu Bahayakan Kesehatan

“Di tahun-tahun akhir kontrak JOB P-PEJ habis pemberitahuan seperti itu tak ada lagi,” terangnya. 

Menyiasati perubahan ini, Sukiran langsung melapor ke RT setempat setiap ada suara bising melebihi batas pendengarannya. Seketika itu pula, RT langsung koordinasi dengan security CPA Mudi dan tim teknisnya untuk mengecilkan suaranya. 

Koordinasi inipun diakui Ketua RT 3 RW 5 Dusun Sarirejo, Zaenudin, namun tak selalu berbuah manis. Rata-rata tim teknis tal bisa mengurangi volume kebisingan, karena tidak memiliki kewenangan. 

“Sama saja ketika koordinasi dengan tim teknis maupun security, bising tidak berkurang,” ungkap pria humanis itu. 

Zaenuri menghitung, minimal ada tiga laporan dari warganya soal bising dalam sepekan. Keluhan inilah yang selama ini dimentahkan oleh hasil kajian tim ITS, yang belum sama sekali disosialisasikan ke warga Rahayu. 

Belum adanya sosialisasi hasil kajian tim ITS dibenarkan oleh perangkat Desa Rahayu, Sutikno. Lambannya transparansi inilah, yang sedikit banyak membuat warga ragu akan kebenaran riset yang dilakukan pada 2016 itu. 

“Ada ratusan warga di 199 KK yang terus menerus mendengar bising tanpa ada tanggungjawab sosial dari perusahaan Migas,” sergahnya. 

Baca Juga :   Warga Pandanwangi Tolak Eksplorasi JOB PPEJ

Saat suasana memanas, perwakilan perusahaan Migas plat merah akhirnya bersedia dialog dengan warga terdampak di balai Desa Rahayu yang dimediasi oleh Pemdes. Dua perwakilan Govrel JOB P-PEJ yang menemui warga yakni, Suhandra dan Fedrik. 

“Kami menunggu koordinasi dari Dinas Lingkungan Hidup Tuban,” ucap Suhandra dihadapan warga dan Pemdes Rahayu. 

Mendengar jawaban tersebut, Kepala Desa Rahayu, Sukisno, meminta JOB P-PEJ memberikan kompensasi kepada 199 KK terdampak bising flare CPA. Tanggungjawan sosial tersebut terhitung dari awal Maret-Agustus 2018. 

“Kompensasi ini tertuang dalam point 6 berita acara tali asih yang disaksikan SKK Migad Jabanusa dan Wabup Tuban,” tegasnnya. 

Setelah dialog rampung tanpa hasil, perwakilan warga di dampingi perangkat desa dan security langsung mengecek ke lokasi untuk membuktikan keluhan warga.Hasilnya benar kebisingan masih ada dan tidak stabil.  

Sebagai tindaklanjut dari dialog hari ini, Pemdes Rahayu dalam pekan ini berencana menemui DLH dan Wabup Tuban. Tujuannya untuk kembali melakukan uji dampak flare Mudi, yang sebelumnya pernah dihentikan sepihak oleh perusahaan Migas. (aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *