SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – Elpiji 3 Kilogram (Kg) di wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, langka dan mahal. Harga di tingkat pengecer menembus hingga Rp40 ribu per tabung.Â
Padahal harga eceran tertinggi (HET) hanya Rp16.000 per tabung, namun fakta di lapangan pengecer menjual jauh di atas harga yang sudah ditentukan.
Di Dusun Dalemkidul, Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, harga elpiji melon di tingkat pengecer mencapai Rp40.000 per tabung.
“Tetangga saya ada yang jual Rp35 ribu sampai Rp40 ribu per tabung,” kata Paidi, (51), warga RT09/RW03 kepada suarabanyuurip.com, Selasa (19/6/208).
Menurut dia harga sebesar itu sangat memberatkan masyarakar, utamanya warga kurang mampu.
“Kalau segitu ya mending cari kayu bakar saja,” ucapnya.
Mahal dan langkanya elpiji ini terjadi sejak sebelum lebaran sampai sekarang.Â
“Susah carinya. Padahal saat seperti ini sangat dibutuhkan,” ucap buruh serabutan itu.
Senada disampaikan pedagang nasi pecel di perempatan pasar Ngumpakdalem, Rohman. Harga LPG di pengecer berkisar antara Rp25 ribu – Rp27 ribu/tabung.
“Tapi susah dapatnya,” sambungnya ditemui terpisah.Â
SG, seorang pengecer membenarkan jika dirinya menjual elpiji 3 Kg sebesar Rp35 ribu sampai Rp40 ribu. Alasannya harga yang dia beli sudah di atas HET.Â
“Kulakannya sudah mahal,” ucapnya tanpa mau menyebutkan berapa harga yang dibeli.
Dalil lainnya, tempatnya kulakan lumayan jauh dan harus antre karena barangnya langka.
“Kalau nggak mau segitu ya nggak apa-apa. Saya nggak maksa harus dibeli kok,” pungkasnya.
Kondisi serupa terjadi di Desa Purwosari, Kecamatan Purwosari. Kelangkaan elpiji terjadi sejak lebaran kemarin. Rata-rata harganya bekisar antar Rp25 ribu sampai Rp30 ribu.
“Sudah dari kemarin beli di toko nggak ada,” sambung Suparman, warga setempat.
Sebelumnya Pertamina Marketing Operation Region (MOR V) Jatimbalinus sudah memprediksi adanya peningkatan konsumsi LPG 3 Kg sebesar 7 – 9 persen. Dari konsumsi normal sebanyak 94.679 metric ton (MT)/bulan, meningkat menjadi 101.307 MT/bulan.Â
Area Manager Communication & Relations Pertamina MOR V Jatimbalinus, Rifky Rakhman Yusuf dikonfirmasi melalui Officer Communication & CSR, Eddie Mangun, menegaskan, kewenangan Pertamina hanya melakukan pengawasan sampai di tingkat pangkalan. Sedangkan di tingkat agen dan pengecer bukan lagi menjadi tanggungjawabnya.
“Seperti pulsa hp, dari operator harganya lebih murah, kemudian di tingkat provider, konter sampai tingkat konsumen harganya beda lagi,” kata Eddie memberikan ilustrasi.
Namun demikian, lanjut dia, untuk mengantisipasi mafia elpiji ini, pemerintah sudah mengatur lewat undang- undang migas dan turunannya. Selain itu ada tim terpadu di daerah yang diantaranya terdiri dari polisi, kejaksaan, pemda.
“Segera diinfokan ke bupati kalu ada indikasi mafia. Kalo HET-nya seperti itu. Itu pelanggaran terhadap SK Gubernur Jatim,” saran Eddie.
Dari penelusuran suarabanyuurip.com, berdasarkan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 06 Tahun 2015 tentang HET elpiji 3 kg di wilayah Jatim yang berada di dalam radius 60 Kilo meter (KM) dari depot LPG Pertamina atau stasiun pengisian pengisian LPG sebesar Rp16.000.
Rinciannya, harga ex Pertamina (depot LPG atau stasiun pengisian) termasuk ppn 10% sebesar Rp11.584,78, biaya operasional distribusi Rp1.715,22, keuntungan agen Rp1.200, dan harga agen ke pangkalan atau sub penyalur Rp14.500. Â
Pasal lainya menyebutkan, sedangkan harga jual LPG di luar radius 60 Km dari SPBE yang ditunjuk Pertamina ada harga jual ex agen ditambah biaya angkutan yang disesuaikan dengan kondisi kabupaten/kota. (suko)