Sejak 2008 Baru Sekali Ada Kebakaran di Gasuma

GM Gasuma

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban- Manajemen PT Gasuma Federal Indonesia mengakui insiden kebakaran yang terjadi di luar pagar tepatnya di saluran pembuangan air ke selokan pada hari Selasa (19/6/2018) sekitar pukul 07:30 WIB,  merupakan kejadian pertama sejak 2008 silam. 

Perusahaan swasta yang mengelola gas flare dari Control Processing Area (CPA) Lapangan Migas Mudi, Blok Tuban, itu langsung melakukan investigasi internal berupa pengecekan laporan CCTV, departemen HSE, laporan operasional, dan klinik.

“Kita beroperasi sejak 2008 dan baru ada kejadian seperti ini,” ujar HRD & GA Manager PT Gasuma Federal Indonesia, Andi Cahaya Nugroho, SH, saat jumpa pers dengan suarabanyuurip.com, di Desa Sokosari, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. 

Usai rapat internal dengan manajemen, Andi sapaan akrabnya, langsung menjalin komunikasi dengan media dan stakeholder terkait. Selain melakukan investigasi internal, manajemen juga belum bisa memberikan statmen soal penyebab kebakaran karena masih menunggu hasil penyelidikan kepolisian. 

“Sesaat setelah api dipadamkan, kawan-kawan kepolisian sudah datang ke lokasi, dan di TKP sudah dipasang garis polisi,” terang pria yang menjabat humas sejak 2017 itu. 

Baca Juga :   Produksi Minyak Blok Cepu Terus Dipacu

Terkait pemberitaan limbah, sebenarnya proses pemisahan air dan gas sudah menggunakan teknologi canggih dan ditempatkan di penampungan khusus. Air itu akan dialirkan keluar melalui selokan. Sedangkan gasnya dipisahkan yang disebut kondensat (sejenis karbon monoksida kalau terkena udara akan hilang). 

Pria humanis ini juga menyebut, jika tadi dikabarkan sempat ada ledakan. Ledakan tersebut bisa saja terjadi, kalau ada gas dan api. Oleh karena itu, pihaknya akan menyelidiki apakah di air selokan benar ada gas atau tidak. 

“Walaupun secara logika itu tidak mungkin,” ucapnya.

Sedangkan untuk dua unit motor yang hangus terbakar, perusahaan siap menggantinya jika kebakaran itu murni kesalahan Gasuma. Oleh karena itu, warga diminta tidak usah khawatir, jika Gasuma salah pasti akan diganti. Bentuknya santunan atau kompensasi.  

“Apabila ada komplen, Gasuma membuka on call 24 jam dan siap untuk menindaklanjuti,” tambah Andi.  

Disinggung tentang bau, Andi mengaku kurang paham detail. Secara umum kondensat mirip bensin (bau keras), tapi kalau sudah kena udara hilang. Apabila warga mengklaim sering timbul bau, itu semata-mata karena arah angin.

Baca Juga :   Bojonegoro Kehilangan Pajak Kilang Mini

“Idealnya tidak ada bau, kalaupun ada arah angin pas ke pemukiman warga,” jelasnya. 

Soal ikan mati, manajemen belum yakin jika itu disebabkan karena air yang dibuang ke selokan. Gasuma sudah beroperasi kurang lebih 10 tahun, dan baru kali ini ada insiden demikian. Pihaknya tidak tahu apakah matinya ikan diracun atau dari limbah air Gasuma. Untuk membuktikannya, pihaknya mengecek CCTV yang mengarah ke pembuangan air.  

“Air yang kami alirkan ke selokan tak mengandung apa-apa, jadi tidak akan membuat ikan dan hewan lainnya mati mendadak,” tegasnya.  

Sebatas diketahui, PT Gasuma merupakan perusahaan pengolah gas Flare Mudi menjadi LPG dan Kondensat. Kondensat sendiri bentuknya cair, dan diantaranya digunakan sebagai bahan baku tinner cat.  

Dikonfirmasi terpisah, Kasatreskrim Polres Tuban, AKP Iwan Hari Poerwanto, menegaskan jika besok baru dilakukan pemeriksaan barang bukti. Otomatis untuk penyebab kebakaran, dan kerugiannya belum diketahui.  

“Kita masih periksa dan dalami insiden ini,” pungkasnya. (aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *