SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tuban, Jawa Timur, menjelaskan, ada tiga dampak mencolok di lingkungan Migas Mudi, Blok Tuban yang sekarang dikelola Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) baru, Pertamina Hulu Energy (PHE).
Dampak tersebut mulai bising, panas, dan kadang-kadang bau gas. Untuk bau gas ini sulit dideteksi, karena keluarnya tidak tentu.
“Saat DLH ke lokasi gas tersebut sudah hilang,” ujar Kepala DLH Tuban, Bambang Irawan, kepada suarabanyuurip.com saat dikonfirmasi di gedung dewan waktu lalu.
Bambang sapaan akrabnya, menjelaskan, pihaknya memiliki kelemahan dalam mengawasi gas. Timnya tidak bisa standby di sekitar Mudi, karena keterbatasan personel.
Untuk meminimalisir dampak tersebut, DLH menyarankan operator baru untuk mengubah pengelolaan flare. Bagaimana skemanya terserah PHE, yang paling penting ada pengurangan dampak bagi lingkungan sekitar.
Selain itu, pihaknya juga meminta operator segera memperbarui izin lingkungan di Lapangan Migas Mudi. Perubahan cukup nama operatornya saja, yang sebelumnya dipegang Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB P-PEJ).
“Tidak perlu mengubah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) karena hakekatnya sama semua,” jelasnya.
Selama tidak ada perubahan kapasitas produksi dan pengelolaannya, Amdal Mudi tidak berubah. Amdal diperbarui, jika operasi Mudi berdampak pada lingkungan sekitarnya.
Sampai berita ini ditulis, wartawan media ini masih berusaha mengonfirmasi perwakilan PHE.(Aim)