SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban-Â Sejumlah petani tambakau di sekitar Lapangan Migas Tapen, di Dusun Tapen, Desa Sidoharjo, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, Jawa Timur terancam merugi gara-gara tanamannya diserang penyakit kerdil. Penyakit yang menyerang daun dan menghambat pertumbuhan batang tembakau ini, belum ditemukan obat penangkalnya.Â
“Kami sudah kehabisan akal, penyakit kerdil ini harus diobati dengan apa,” ujar petani Ratmo (50), kepada suarabanyuurip.com saat ditemui sawahnya yang berjarak sekitar 300 meter dari Sumur Tapen-01, Minggu (15/7/2018).
Ratmo mengaku, jika disuruh memilih tembakaunya lebih baik diserang ulat dari pada penyakit kerdil. Berbagai obat sudah dicobanya, tapi hasilnya nihil. Tiap tembakaunya yang ditanam di lahan satu hektar berumur sebulan lebih, ujung daun sampai pangkal langsung menggulung dan keriput.Â
Fenomena tahunan ini membuat bingung petani tembakau, karena saat koordinasi dengan penyuluh pertanian setempat juga angkat tangan menangani kerdil. Berbeda dengan serangan ulat, yang hanya membuat daun tembakau lobang maupun kuncup daun hilang. Cukup disemprot obat kimia, ulat akan mati dan tembakau pulih kembali.Â
“Jika ada obatnya berapapun harganya akan kami tebus,” tegas Ratmo sambil menunjuk tembakaunya yang kerdil.Â
Petani lainnya, Tono (43), menambahkan, jika penyakit kerdil menyerang setiap musim tanam. Bedanya tahun lalu lebih sedikit, dibanding serangan tahun ini.Â
“Dulu tak sebanyak ini tembakau yang kerdil,” sergahnya.Â
Petani yang menggeluti tembakau sejak tahun 1999 ini, sudah sangat berpengalaman merawat tanaman bahan baku kretek. Dia baru angkat tangan, saat penyakit kerdil ini muncul di wilayahnya.Â
Bagi tembakau yang kerdil, diameter daunnya tak lebih dari 10 Centimeter. Berdeda dengan tembakau normal, diameter daunnya bisa lebih dari 40 Cm. Resikonya jika daun tembakau kerdil, tentu tidak laku dijual ke tengkulak.Â
Untuk meminimalisir kerugian, para petani Tapen biasanya menyelipkan daun tembakau kerdil maupun yang dimakan ulat dengan daun normal. Dikarenakan jual beli daun per Kg, sehingga daun tembakau normal jumlahnya lebih banyak.Â
“Tembakau bisa dipanen enam kali dengan harga setiap daun berbeda mulai Rp1.000 sampai Rp5.000/Kg,” tambah Tono yang pamit bergegas mengecek diesel air sumur bornya.Â
Sejak lama, tembakau menjadi andalan masyarakat di sekitar Lapangan Tapen. Gara-gara cita rasanya yang khas, tembakau tersebut mampu menjadi penggerak ekonomi di wilayah setempat.Â
Sampai sekarang tembakau Tapen masih menjadi buruan perajang dari Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, dan beberapa daerah lain yang berada di Jawa Tengah dan Jawa Barat.
“Kalau perajang sana menyebut tembakau Tuban, terkenal dengan warna hijau dan aroma yang khas,†imbuhnya.Â
Tembakau yang berasal dari kawasan Tapen dan sekitarnya ini harus bersaing dengan beberapa tembakau daerah lain, seperti tembakau Bojonegoro, Jombang, dan Kediri. Meski beberapa kota tersebut lebih dulu berada di pasaran, tapi kualitas dan warna yang bagus menjadikan tembakau Tuban merupakan salah satu pilihan utama.
Temuan ini, langsung mendapat respon cepat dari Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Tuban, Murtadji. Besok pagi, penyuluh dan kasi yang menangani langsung ke lapangan. Sekali lagi terimakasih atas dukungannya.Â
“Terimakasih informasinya segera kami tindaklanjuti,” pungkas mantan Camat Bancar ini. (aim)Â