SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
Blora – Gonjang-ganjing rencana penjualan aset Pertamina, memantik reaksi karyawan yang tergabung dalam Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (SPPB) melakukan unjuk rasa penolakan. Diantara aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditengarai bakal dijual adalah Blok Gundih yang dikelola Pertamina EP Asset 4 Field Cepu.Â
Staff Ahli Fraksi PKS DPR-RI, Seno Margo Utomo, kabar penjualan aset Pertamina di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, sudah santer di senayan.
“Informasi di Jakarta seperti itu. Asset di wilayah Blok Gundih akan dijual. Bahkan diduga kalau petinggi Pertamina tidak tahu kalau Asset-nya mau dijual,” ungkap Seno kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (21/7/2018) petang kemarin.
Mantan Anggota DPRD Blora ini, menduga ada maksud lain dari surat nomor S-427/MBU/06/2018 tertanggal 29 Juni 2018, yang ditanda tangani oleh Menteri BUMN, Rini M Soemarno. Surat tersebut perihal persetujuan prinsip aksi korporasi untuk mempertahankan kondisi kesehatan keuangan PT Pertamina (Persero).Â
Pada surat itu, menurut Seno, sengaja didesain untuk mencari Fee dari share-down aset-aset hulu selektif guna kepentingan tertentu.
“Intinya hanya untuk mencari fee,” tandasnya.Â
Selama ini Centra Processing Plant (CPP) Gunih merupakan proyek menguntungkan di Pertamina, dan kinerja anak usahanya, Pertamina Asset 4 termasuk bagus.
Seno menjelaskan, pada 24 Oktober 2017, total realisasi produksi Cepu Field diatas 2200 barel per hari (BPH) atau sekitar 115 % dari target rata – rata produksi minyak Cepu Field setahun sebesar 1862 bph.
Sementara untuk produksi Gas, mencapai 68,7 Juta Kaki Kubik Gas Per Hari (MMSCFD) dengan tingkat penjualan Gas yang terserap mencapai 42,5 Juta Kaki Kubik Gas Per Hari (MMSCFD).
Oleh karena itu, menurut dia, aksi penolakan yang dilakukan oleh serikat pekerja harus didukung.
“Blora seharusnya juga menolak rencana penjualan aset itu. Karena Blora memperolah DBH Migas paling besar dari CPP Gundih,” tandasnya.Â
Jika nanti CPP Gundih sampai dijual ke swasta, dikhawatirkan hak DBH Migas bagi Blora akan hilang.Â
Dikonfirmasi terpisah General Manager Pertamina Asset 4, Agus Amperianto, menyatakan surat dari kementerian BUMN tidak berimbas pada Blok Gundih.
“Gundih tidak berdampak langsung dalam hal ini,” kata dia.Â
Menurut Agus, kontrak Gundih sudah established dengan Indonesia Power dengan alokasi kelistrikan hingga 15 tahun mendatang.
“(Kontraknya) Sudah ditetapkan,” pungkasnya.(ams)