Taiwan Berencana Boyong Pabrik Petrokimia ke Tuban

Wabup Tuban

SuaraBanyuurip.com -  Ali Imron

Tuban- Tujuh bulan lalu, Wakil Bupati Tuban, Noor Nahar Hussein diundang Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan bersama PT Pertamina (persero) di Jakarta. Salah satu yang dibahas adalah, rencana Taiwan melakukan relokasi industri Petrokimia di Desa Remen, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, tepatnya di dalam kompleks Kilang PT Trans Pasific Petrochemical Indotama (TPPI). 

“Rencana relokasinya bersinergi dengan PT TPPI,” ujar Wabup Noor Nahar Hussein, kepada suarabanyuurip.com, di kompleks Pendapa Krida Manunggal Tuban, Selasa (31/7/2018).

Noor Nahar sapaan akrabnya, menjelaskan Pemkab Tuban baru diajak sekali membahas relokasi Pabrik Petromia dari Taiwan tersebut. Itupun sampai dengan akhir Juli 2018, belum ada realisasinya. 

Informasi yang diterima Wabup, alasan relokasi karena pabrik Petrokimia di sana sudah terkepung pemukiman seiring perkembangan kota di Taiwan. Relokasi sangat mungkin dilakukan, mengingat pabriknya di sana belum sampai operasi. 

Munculnya rencana relokasi tersebut, berawal saat Menteri Lujut berkunjung di Taiwan. Tawaran tersebut akhirnya disampaikan ke Pertamina, karena kedepannya bahan baku kondesat akan dipasok perusahaan plat merah itu. Sedangkan penyampaikan ke Pemkab, karena sebagai tuan rumah investasi. 

Disingung apakah industri Petrokimia Taiwan ini akan bersinergi dengan Kilang NGRR Tuban, Wabup menampiknya karena saat ini terjadi perubahan-perubahan. Di dalam Kilang patungan Pertamina-Rosneft juga dikabarkan akan dibangun industri Petrokimia, karena ditengarai melonjaknya kebutuhan lahan kilang yang semula 400 hektare menjadi 1.000 hektre. 

Baca Juga :   Pertamina EP Ditipu KUD

“Jadi masih panjang prosesnya,” terang pria kelahiran Kecamatan Rengel ini. 

Dilansir dari Katadata.co.id, industri petrokimia di Indonesia tidak mengalami perkembangan yang signifikan dalam dua dekade terakhir. Salah satu penyebabnya adalah ketersediaan bahan baku di dalam negeri. Padahal industri petrokimia memiliki peran penting dalam perekonomian tanah air.

Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri Indonesia Johnny Darmawan mengatakan sampai saat ini industri petrokimia di Indonesia masih tergantung bahan baku impor. Dari kebutuhan bahan baku sebesar 5,6 juta ton per tahun, yang bisa terpenuhi dari dalam negeri hanya 2,45 juta ton.

Selain itu, produk hilir dari petrokimia juga saat ini digempur impor. “Pasar produk petrokimia dari hulu ke hilir ini sangat lah besar, tapi dikuasai impor. Dengan struktur demikian, praktis industri petrokimia nasional sulit bersaing.

Untuk itu, industri petrokimia perlu perhatian khusus. Salah satunya dengan meningkatkan ketersediaan bahan baku dan pasokan energi  dengan harga yang terjangkau. Kemudian kesinambungan kebijakan pemerintah pusat dan daerah untuk mempermudah industri.  

Langkah lainnya adalah dukungan kebijakan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) untuk kebutuhan bahan baku industri petrokimia dan turunannya. Terakhir meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Jika tidak ada tindak lanjut, bisa berdampak pada kestabilan industri, termasuk turunannya. Tidak adanya perkembangan signifikan pada minimnya suplai kebutuhan akan produk petrokimia dari pabrikan dalam negeri.

Direktur Industri Kimia Dasar, Direktorat Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian Muhammad Khayam mengatakan sudah meminta kepada Kementerian ESDM untuk mengamankan alokasi gas sebagai bahan baku petrokimia. Selain itu juga meminta keringanan pajak ke Kementerian Keuangan agar industri bisa bertahan.

Baca Juga :   Ditjen Migas Apresiasi Gas on Stream JTB Berlangsung Aman

Dengan upaya tersebut harapannya, industri petrokimia dalam negeri bisa bersaing dengan produk luar. 

“Kingin bersaing dengan impor bahan baku yang dari Tiongkok ke Indonesia,” terangnya. 

Saat ini ada proyek baru petrokimia yang menjadi perhatian pemerintah. Pertama, proyek milik PT. Pupuk Indonesia, Ferrostaal, Sojitz, dan LG di Teluk Bintuni, Papua Barat. Kedua, proyek industri naphtha cracker oleh PT. Chandra Asri Petrochemicals di Cilegon, Banten yang nilai investasinya US$ 5,44 miliar.

Ketiga, proyek industri naphtha cracker PT. Lotte Chemical Indonesia di Cilegon, Banten. Investasi proyek ini ditaksir sebesar U$ 3,5 miliar dan akan selesai 2023.

Keempat, Proyek relokasi industri naphtha cracker CPC Taiwan oleh PT. Pertamina di Tuban, Jawa Timur. Kelima, Proyek industri Vynil Chloride Monomer oleh PT. Asahimas Chemical di Cilegon, Banten. 

Selain itu ada juga proyek pabrik gasifikasi batubara oleh PT. Bukit Asam, PT Pertamina, PT Pupuk Indonesia, dan PT Chandra Asri Petrochemicals di Muara Enim, Sumatera Selatan.

Sementara, untuk industri petrokimia yang memanfaatkan gas di blok Masela masih menunggu besaran alokasi dari Kementerian ESDM. (aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *