SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Sebagian petani Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, resah karena kondisi tanaman pertaniannya mengering setelah menggunakan air dari sungai setempat. Salah satunya adalah Sutomo (45) salah satu petani desa setempat.
Sutomo menduga, air sungai yang digunakan untuk mengairi sawahnya tersebut tercemar limbah dari Pad A yang dikeluarkan melalui pipa besar yang menjulur di atas sungai.
“Saya menduga, kalau ada limbah yang dikeluarkan melalui pipa ini,” kata Sutomo sambil menunjuk pipa tersebut kepada Suarabanyuurip.com, Jumat (31/8/2018).
Pada awal bulan Agustus 2018, tanaman padi miliknya tumbuh subur seperti halnya kondisi tanaman lainnya yang diairi menggunakan air sumur. Namun karena musim kemarau, air sumur tidak lagi mencukupi. Sehingga dengan terpaksa menggunakan air sungai yang terletak di sebelah timur untuk pengairan.
“Kejadiannya, dua minggu yang lalu. Setelah saya gunakan air sungai itu semakin lama daun tanaman padi semakin kering dan mati,” ujarnya sedih.
Beberapa hari yang lalu, dia telah melayangkan surat protes kepada operator Lapangan Sukowati, Pertamina EP Asset 4 melalui security namun hingga kini belum ada balasan ataupun respon.
“Harapannya, sama-sama melihat sawah saya. Ini matinya kena apa. Apa benar, dugaan saya atau dari faktor lain. Yang jelas, kalau hama tidak seperti ini,” tandasnya.
Sementara itu, Legal and Relations Sukowati Field, Angga Arya, saat dikonfirmasi mengatakan, akan mengecek terlebih dahulu apakah sudah ada surat aduan dari Sutomo terkait kondisi sawahnya.
“Kita cek dulu ya, suratnya ada atau tidak. Baru ditindak lanjuti,” ujarnya.
Namun, pihaknya memastikan, jika tidak ada pembuangan limbah dari Lapangan Pad A karena selama ini sudah menggunakan aturan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terkait pembuangan sampah dan limbah industri.
“Tidak mungkin, kami membuang limbah sembarangan karena sudah sesuai dengan aturan KLHK,” pungkasnya.(rien)Â